Mundurnya Perry Warjiyo dari BI Dipicu Perselisihan dengan Menkeu Soal Likuiditas

- Rabu, 29 Juli 2026 | 20:25 WIB
Mundurnya Perry Warjiyo dari BI Dipicu Perselisihan dengan Menkeu Soal Likuiditas

Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo secara mendadak pada awal pekan ini memicu spekulasi. Tiga sumber yang mengetahui langsung masalah tersebut mengungkapkan adanya perselisihan antara Perry dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai strategi pertumbuhan ekonomi. Ketegangan di antara keduanya telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Perry Warjiyo tidak hadir saat pengumuman pengunduran dirinya disampaikan oleh Deputi Senior BI Destry Damayanti bersama pembantu Presiden Prabowo Subianto pada Senin. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut Perry mundur karena alasan pribadi. Namun, Bank Indonesia disebut berada di bawah tekanan untuk mendukung agenda pertumbuhan besar Presiden.

Ketiga sumber itu tidak menyatakan secara langsung apakah ketidaksepakatan dengan Purbaya menjadi penyebab utama pengunduran diri Perry. Mereka meminta namanya tidak diungkapkan karena khawatir akan dampaknya. Meski demikian, perbedaan antara keduanya disebut meningkat baru-baru ini terkait kebijakan likuiditas dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi serta nilai tukar rupiah.

"Purbaya menginginkan likuiditas yang melimpah, tetapi situasi ini akan memberikan tekanan pada rupiah," kata salah satu sumber yang menggambarkan Purbaya memiliki pengaruh signifikan terhadap presiden. Juru bicara Purbaya, presiden, dan Bank Indonesia tidak memberikan komentar. Perry Warjiyo tidak dapat dihubungi, sementara Kementerian Keuangan menolak berkomentar.

BI telah menaikkan suku bunga 100 basis poin sejak Mei melalui kebijakan pengetatan untuk menarik investor asing dan memperkuat rupiah. Bank sentral biasanya menjaga likuiditas ketat saat rupiah terdepresiasi guna mencegah spekulasi. Di sisi lain, Purbaya secara teratur mengkritik kebijakan BI sejak diangkat pada September tahun lalu. Ia ingin mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju 8% dari 5%, sesuai janji kampanye Prabowo.

Sumber kedua mengatakan BI sudah waspada terhadap upaya Purbaya yang sering memindahkan cadangan kas ke bank-bank milik negara, yang dapat menyebabkan ketidaksesuaian jatuh tempo. Beberapa hari setelah menjabat, Purbaya menyuntikkan 200 triliun rupiah (sekitar 11,11 miliar dolar AS) ke bank-bank BUMN, dana yang sebelumnya dikelola di bank sentral. Pada awal Juni, ia setuju dengan Perry untuk mengembalikan dana tersebut ke BI demi mendukung rupiah yang jatuh. Namun, sekitar dua pekan kemudian, ia kembali menyuntikkan dana negara ke bank-bank tersebut dengan alasan kebijakan awalnya sudah benar.

"Meskipun para pejabat BI tidak setuju dengan keputusan Purbaya untuk memberikan likuiditas berlebihan, para pejabat di bank sentral juga menganggap penarikan dana secara tiba-tiba berbahaya karena dapat memicu lonjakan suku bunga antar bank," kata sumber kedua. Ia menambahkan bahwa para pejabat BI berupaya keras mengonfirmasi rumor pengunduran diri Perry selama akhir pekan. Deputi Senior Destry bahkan mempersingkat perjalanan kerja ke Bali untuk kembali ke Jakarta. Pada Senin pagi, Perry berbicara kepada dewan gubernur dalam pertemuan daring. "Komunikasi eksternal yang beredar menyatakan bahwa dia mengundurkan diri secara sukarela," ujar sumber tersebut.

Pengganti Perry

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan Presiden Prabowo Subianto belum menetapkan pengganti Perry. Prasetyo menjelaskan Presiden baru menerima surat pengunduran diri Perry pada Ahad (26/7), sehingga belum ada pembahasan calon definitif. "Belum. Dalam waktu satu hari ini dia (Presiden Prabowo) langsung mau mengajukan calon definitif, kan belum. Dan kebetulan Undang-Undang BI mengatur bahwa kekosongan jabatan itu bisa langsung secara otomatis dijalankan oleh pejabat gubernur sementara," kata Prasetyo dalam konferensi pers di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Senin.

Jabatan Gubernur BI untuk sementara akan dijalankan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang telah beberapa kali diubah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan mengikuti arahan Presiden terkait isu namanya masuk bursa calon Gubernur BI. "Kami ikuti perintah Bapak Presiden," kata Purbaya saat dikonfirmasi wartawan di Jakarta, Selasa. Ia mengaku belum mengetahui detail nama-nama kandidat dan belum menerima arahan dari Presiden.

Ekonom Universitas Indonesia Telisa Falianty menilai pengganti Gubernur BI harus berasal dari figur yang memahami sektor keuangan. Hal itu diperlukan agar independensi dan kredibilitas bank sentral tetap terjaga. "Kita tetap berharap memilih figur yang kompeten, harus orang-orang yang bergerak di sektor keuangan. Gubernur Bank Sentral harus memiliki jam terbang dan pengalaman yang sangat luar biasa karena akan mengawal sektor keuangan," ujar Telisa dalam acara di Jakarta, Rabu (29/7/2026). Ia mengingatkan kebijakan moneter harus berorientasi menjaga stabilitas. Jika terlalu banyak dipengaruhi kepentingan di luar mandat utama, kredibilitas bank sentral dapat tergerus. Telisa mencontohkan pengalaman sejumlah negara yang menghadapi gejolak pasar ketika independensi bank sentral dipertanyakan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags