Pemerintah mempercepat pembangunan Proyek Pipa Transmisi Gas Bumi Dusem (DuriāSei Mangkei) untuk memperluas jaringan distribusi gas di Pulau Sumatera. Proyek ini menjadi tulang punggung pengembangan infrastruktur gas bumi dalam meningkatkan konektivitas pasokan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah yang dilalui.
Proyek yang dibangun menggunakan dana APBN ini terbagi menjadi dua segmen utama. Segmen 1 mencakup SKG Belawan hingga Stasiun Labuhan Batu sepanjang 279,8 km, sedangkan Segmen 2 membentang dari Stasiun Labuhan Batu sampai fasilitas di Duri.
BUMN konstruksi PT Brantas Abipraya (Persero) mengerjakan Segmen 2 di Bagan Batu. Hingga akhir Juli 2026, progres konstruksi telah mencapai 32,3 persen. "Pembangunan jaringan pipa gas sepanjang 262 km ini memiliki peran penting dalam meningkatkan keandalan pasokan energi bagi sektor industri, pembangkit listrik, hingga kawasan ekonomi," ujar Sekretaris Perusahaan PT Brantas Abipraya (Persero), Dian Sovana, Rabu (29/7).
Dengan distribusi gas yang lebih efisien, biaya energi dapat ditekan sehingga mampu meningkatkan daya saing industri nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dian mengatakan, keterlibatan Brantas Abipraya dalam proyek ini sekaligus untuk mewujudkan swasembada energi dan pembangunan infrastruktur yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
"Proyek Pipa Gas Dusem bukan sekadar pembangunan infrastruktur energi, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi. Kehadiran jaringan pipa ini akan memperkuat distribusi gas nasional, mendukung aktivitas industri, membuka peluang investasi, serta menciptakan multiplier effect bagi masyarakat di sekitar proyek. Brantas Abipraya berkomitmen menyelesaikan proyek ini dengan mengedepankan kualitas, keselamatan kerja, dan ketepatan waktu," ujar Dian.
Dalam pelaksanaannya, Brantas Abipraya menerapkan standar konstruksi terbaik dengan mengedepankan aspek Quality, Health, Safety, Security, and Environment (QHSSE). Perusahaan juga memanfaatkan teknologi konstruksi yang efisien untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai target mutu, biaya, dan waktu.
Selain manfaat bagi sektor energi, proyek ini turut menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal serta mendorong pertumbuhan usaha pendukung di sekitar lokasi pembangunan. Kehadiran proyek strategis tersebut diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi berkelanjutan, mulai dari peningkatan aktivitas perdagangan hingga berkembangnya sektor jasa dan UMKM.
"Semoga dengan tuntasnya proyek ini nantinya dapat memberikan dampak positif yang masif bagi industri lokal di sepanjang koridor Sumatera Utara hingga Riau. Kehadiran pipa ini menjadi 'jalan tol energi' yang memecahkan masalah keterbatasan infrastruktur gas dan memacu efek domino ekonomi lokal," tutup Dian.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Rp100,1 Triliun untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera
Antrean BBM Bersubsidi di Sumatera Kian Panjang, Pengamat Sebut Ruang Fiskal Pemerintah yang Terbatas Jadi Penyebab
Pertamina Patra Niaga Akui Ada Panic Buying BBM di Sumatera, Stok Nasional Aman
Polisi Gagalkan Penyelundupan 12 Motor Curian ke Sumatera, Disamarkan dengan Perabotan Rumah Tangga