Pemerintah mempercepat pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt agar segera terhubung dengan jaringan listrik Sumatera. Langkah ini diambil untuk memperkuat keandalan pasokan listrik di wilayah tersebut, yang tengah menghadapi situasi kritis akibat robohnya lima menara transmisi pada November 2025.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, menyatakan bahwa PLTA yang dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) ini akan menjadi penopang utama dalam menjaga stabilitas kelistrikan Sumatera. "Ini merupakan upaya percepatan kita untuk penyediaan dan keandalan energi secara nasional. Khususnya, kondisi energi di wilayah Sumatera cukup kritis sehingga kita memerlukan antisipasi. Dengan keterbatasan ketersediaan energi primer yang lain, kita sudah memiliki PLTA Batang Toru yang bisa on-grid," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (31/7/2026).
Bencana hidrologi yang melanda pada November 2025 tidak hanya merobohkan menara transmisi, tetapi juga merusak infrastruktur pendukung jaringan kelistrikan. Kementerian ESDM kini mengawal proses pemulihan yang masih berada pada tahap perancangan menara dan struktur pondasi. "Pembangunan kembali jalur transmisi ini dilakukan secara terakselerasi agar energi listrik dari PLTA Batang Toru dapat disalurkan dengan optimal ke dalam jaringan transmisi Sumatera," kata Yuliot.
Selain kendala transmisi, proyek ini juga sempat terhambat masalah perizinan dan administrasi. Kepastian kelanjutan proyek diperoleh setelah Menteri Lingkungan Hidup mencabut sanksi administratif melalui Keputusan Nomor 1444 Tahun 2026 pada 16 Maret 2026, disusul persetujuan untuk melanjutkan konstruksi. Saat ini, proses administrasi berjalan paralel dengan uji teknis pembangkit yang memerlukan genangan air. "Testing yang dilakukan ini namanya PLTA kan harus ada genangan. Kalau tidak ada genangan, testing tidak bisa kita lakukan. Berarti antara penyelesaian administratif dan juga pelaksanaan testing itu kita lakukan secara paralel," jelas Yuliot.
Pengoperasian PLTA Batang Toru juga diharapkan mendukung target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) nasional yang saat ini berada di kisaran 16 hingga 17 persen dan ditargetkan mencapai 21 persen pada akhir 2026. "Jika kita tidak melakukan percepatan-percepatan, maka target bauran energi 21 persen tidak akan tercapai hingga akhir tahun," ujarnya.
PLTA Batang Toru berlokasi di area seluas 650 hektare di Kabupaten Tapanuli Selatan. Proyek ini dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy dengan Sinohydro Corporation Limited sebagai kontraktor. Pembangunannya dimulai pada 1 September 2017 dengan investasi Rp21,6 triliun yang bersumber dari penanaman modal asing.
Artikel Terkait
Pemerintah Percepat Operasional PLTA Batang Toru untuk Perkuat Jaringan Listrik Sumatera
Proyek Pipa Gas Dusem Ditargetkan Rampung 2026, Dorong Konektivitas Energi Sumatera
Pemerintah Siapkan Rp100,1 Triliun untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera
Antrean BBM Bersubsidi di Sumatera Kian Panjang, Pengamat Sebut Ruang Fiskal Pemerintah yang Terbatas Jadi Penyebab