Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat target operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, seiring dengan pemulihan jaringan transmisi listrik pascabencana banjir dan longsor pada akhir 2025. Bencana hidrologi tersebut merobohkan lima menara transmisi, menyisakan tantangan bagi sistem kelistrikan Sumatera.
Untuk memperkuat sistem tersebut, pemerintah berencana mengebut pengoperasian PLTA Batang Toru yang berkapasitas 510 megawatt (MW). Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menilai pembangkit yang dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) ini krusial untuk memperkuat transmisi pasokan listrik di Sumatera dan diharapkan segera terhubung dengan jaringan listrik setempat.
“Ini merupakan upaya percepatan kami untuk menyediakan dan mencerminkan energi secara nasional. Khususnya, kondisi energi di wilayah Sumatera cukup kritis sehingga kami memerlukan antisipasi. Dengan keterbatasan ketersediaan energi primer yang lain, kami sudah memiliki PLTA Batang Toru yang bisa on-grid,” ujar Yuliot dalam keterangan resmi, Jumat (31/7).
Yuliot menjelaskan, Kementerian ESDM kini mengawal proses pemulihan yang masih berada pada tahap perancangan menara dan struktur pondasi yang terhubung kepada PLTA Batang Toru. “Pembangunan kembali jalur transmisi ini dilakukan secara terakselerasi agar energi listrik dari PLTA Batang Toru dapat disalurkan dengan optimal ke dalam jaringan transmisi Sumatera,” jelasnya.
Selain kendala transmisi, proyek senilai Rp 21,6 triliun ini juga sempat terhambat perizinan dan administrasi. Kepastian lanjutannya muncul setelah Menteri Lingkungan Hidup mencabut sanksi administratif melalui Keputusan Nomor 1444 Tahun 2026 pada 16 Maret 2026, disusul persetujuan untuk melanjutkan konstruksi.
Saat ini, kata Yuliot, proses penyelesaian administrasi berjalan paralel dengan uji teknis pembangkit listrik yang memerlukan penampungan udara. Pengoperasian pembangkit ini pun diharapkan mendukung target bauran energi baru terbarukan nasional yang saat ini berada pada kisaran 16 hingga 17 persen dan ditargetkan mencapai 21 persen pada akhir 2026.
“Jika kita tidak melakukan percepatan-percepatan, maka target bauran energi 21 persen tidak akan tercapai hingga akhir tahun,” ujarnya.
PLTA Batang Toru berada di lahan seluas 650 hektare di Kabupaten Tapanuli Selatan. Proyek berkapasitas 510 MW ini dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy dengan Sinohydro Corporation Limited sebagai kontraktor. Pembangunannya dimulai pada 1 September 2017 dengan investasi Rp 21,6 triliun yang bersumber dari penanaman modal asing.
Artikel Terkait
Pemerintah Percepat Operasional PLTA Batang Toru untuk Antisipasi Krisis Listrik Sumatera
Pemerintah Bangun Sejumlah PSEL di Jawa Barat Usai Legok Nangka
Wamen ESDM Kirim Tim ke Lapangan Usai Ada Gangguan Pasokan BBM di Sejumlah Daerah
Realisasi PNBP ESDM Tembus Rp85,58 Triliun hingga Juli 2026