Perahu Lapuk, Semangat Tak Lapuk: Nelayan Lampung Timur Berjuang Demi Keluarga

- Kamis, 23 Juli 2026 | 13:05 WIB
Perahu Lapuk, Semangat Tak Lapuk: Nelayan Lampung Timur Berjuang Demi Keluarga

Di tengah keterbatasan, Mujiono, seorang nelayan di Kabupaten Lampung Timur, tetap melaut setiap hari meski perahunya sudah lapuk dan bocor. Baginya, selama masih ada laut, ia tak akan menyerah untuk menafkahi istri, anak, dan saudara-saudaranya.

"Ke mana aja didatengin yang bisa. Walau perahunya sudah lapuk tetap jalan. Kita melaut sambil buang air yang masuk ke perahu, lumayan capek," ujar Mujiono.

Perahu berusia tiga tahun itu menjadi satu-satunya alat mencari nafkah. Setiap hari, ia berlayar menangkap ikan kecil, udang, dan kerang untuk dijual ke pasar. Namun, tak jarang ia pulang dengan jaring kosong. Saat tangkapan sepi, ia ingin melaut lebih jauh, tapi perahunya tak mampu menahan derasnya air yang masuk. Risiko tenggelam pun mengintai.

"Ya balik, kita cari lagi. Kita berhenti mencari saja, nanti kalau sudah ada minyak (BBM) berangkat lagi," kata Mujiono yang tinggal di Dusun Pulo Waru, Desa Purworejo, Lampung Timur.

Mujiono tinggal bersama istri, seorang anak, keponakan, dan adik-adiknya. Ia berharap suatu hari memiliki perahu yang lebih baik, lengkap dengan mesin dan alat tangkap yang memadai. Dengan begitu, ia bisa melaut lebih jauh dan membawa pulang tangkapan lebih banyak.

Harapan di Balik Layar

Bagi Mujiono, perahu yang layak adalah kunci untuk memperbaiki nasib keluarganya. Ia ingin menyekolahkan anaknya dan memperbaiki rumah agar lebih layak huni. Namun, semua impian itu masih tertahan oleh satu perahu yang terus bocor.

Kepedulian dari berbagai pihak diharapkan bisa membantu Mujiono mendapatkan perahu yang lebih baik, sehingga ia bisa memaksimalkan tangkapannya dan menghidupi keluarga dengan lebih layak.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags