Di pesisir utara Jawa Tengah, ada sebuah kota kecil bernama Lasem yang menyimpan jejak sejarah panjang. Lebih dari seribu tahun lalu, kawasan ini sudah menjadi jalur perdagangan internasional, pusat industri perkapalan, hingga tempat bertemunya berbagai budaya. Julukan "Kota Tiongkok Kecil" melekat erat karena akulturasi besar yang terjadi di sana.
Perjalanan Lasem sebagai kawasan maritim telah berlangsung sejak zaman prasejarah. Situs-situs kuno di Plawangan, Leran, Binangun, dan Terja menunjukkan keberadaan pemukiman ribuan tahun lalu. Para peneliti memperkirakan suku Austronesia adalah bangsa pertama yang mendiami wilayah ini. Temuan Perahu Kuno Punjulharjo juga mengindikasikan tradisi pelayaran sudah berkembang setidaknya sejak abad ke-7 Masehi, menjadikan Lasem titik penting dalam jaringan perdagangan Nusantara yang sering disinggahi pedagang asing.
Memasuki era Majapahit, peran Lasem semakin kuat sebagai pelabuhan penting di pesisir utara Jawa. Catatan sejarah menyebut Lasem kemungkinan merupakan kerajaan di bawah naungan Majapahit yang dikenal subur. Aktivitas perdagangan terus berlanjut pada masa Demak, Mataram Islam, hingga kolonial, menarik pedagang dari Tiongkok, Champa, Bugis, dan lainnya. Komunitas Tionghoa pun terbentuk dan bertahan selama berabad-abad.
Jejak Akulturasi dalam Bangunan
Akulturasi budaya masih terasa dari berbagai peninggalan bersejarah, terutama unsur Tiongkok. Tiga kelenteng berusia ratusan tahun menjadi bukti nyata. Kelenteng Cu An Kiong, atau Kelenteng Mak Co, di Desa Soditan adalah yang tertua, diperkirakan berdiri pada abad ke-15. Dewi utama yang dipuja adalah Ma Zu, dewi laut dalam kepercayaan Tionghoa.
Kelenteng Poo An Bio di Desa Karangturi merupakan tertua kedua, didirikan tahun 1700-an. Kelenteng ini memuja Dewa Guang Ze Zun Wang, dewa pelindung perantau. Sementara Kelenteng Gie Yong Bio di Desa Babagan didedikasikan untuk mengenang kegagahan Raden Panji Margono yang berjuang melawan penjajah bersama penduduk asli dan masyarakat Tionghoa.
Tidak jauh dari ketiga kelenteng, berdiri Masjid Jami' yang memadukan budaya Tiongkok dan Islam. Arsitekturnya menggabungkan atap tumpang khas masjid kuno Jawa dengan dominasi kayu, serta ornamen Tiongkok di dalamnya. Perpaduan ini mencerminkan kehidupan berdampingan dua komunitas.
Batik Lasem: Warisan Budaya yang Hidup
Harmoni budaya juga terlihat pada Batik Lasem, warisan yang menjadi identitas kota. Batik ini berkembang sejak kedatangan pelayar dan saudagar Tiongkok, yang mewariskan keterampilan membatik kepada masyarakat setempat. Motif burung hong, naga, dan bambu merepresentasikan pengaruh Tiongkok, sementara motif latohan dan watu pecah mengingatkan pada sejarah lokal dan pembangunan Jalan Raya Pos era Daendels.
Toleransi dan interaksi sosial di Lasem tidak hanya tercermin dari bangunan, tetapi juga dari keseharian masyarakat. Selama berabad-abad, kelompok Jawa, Tionghoa, Arab, dan lainnya telah membangun hubungan erat melalui kehidupan bertetangga, ekonomi, dan tradisi lintas generasi. Perbedaan etnis dan agama tidak menjadi penghalang, melainkan bagian dari identitas sosial yang mengakar.
Warga saling menghadiri dan membantu perayaan budaya maupun agama tanpa memandang perbedaan. Nilai toleransi tumbuh secara alami dari kedekatan yang telah terjalin lama. Lasem bukan sekadar destinasi wisata sejarah, melainkan potret kehidupan masyarakat yang merawat keberagaman hingga kini.