Dokter Muda Sukses Pilih Melajang Gegara Trauma Rumah Tangga Orang Tua, Berujung Temukan Jodoh Lewat Ujian Karakter

- Jumat, 26 Juni 2026 | 17:50 WIB
Dokter Muda Sukses Pilih Melajang Gegara Trauma Rumah Tangga Orang Tua, Berujung Temukan Jodoh Lewat Ujian Karakter

Belum genap tiga tahun sejak menyandang gelar dokter, Karim telah menuai popularitas dan rasa hormat yang melampaui usianya. Di balik kesuksesan yang diraihnya, banyak orang yang mengenalnya sejak kecil tak bisa menyembunyikan keheranan. Masa lalunya yang penuh penderitaan dan lingkungan sosial yang buruk di sekitar rumahnya sama sekali bukan lahan yang subur untuk melahirkan seorang pribadi yang santun dan berprestasi.

Pertanyaan tentang asal muasal kesopanan tinggi yang ia tunjukkan kepada setiap pasien dan orang yang ditemuinya pun mengemuka. Kekayaan ayahnya memang membantunya menyelesaikan sekolah menengah. Namun, keberuntungan sejati datang ketika keunggulannya di bidang sains mengantarkannya meraih beasiswa kuliah di fakultas kedokteran. Di sanalah takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda dari keluarga terhormat. Pertemanan itu menjadi titik balik. Lingkaran pergaulannya perlahan berubah menjadi kumpulan individu pilihan yang berkualitas tinggi, dan Karim pun berubah.

Ia terpengaruh oleh perilaku baik mereka dan bertransformasi. Pikirannya menjadi teratur, dan ia mulai menyeimbangkan antara belajar keras dan giat beribadah. Waktunya ia bagi untuk mendalami buku kedokteran dan mengkaji kitab Allah. Bersama teman-teman pilihannya, ia bahkan berupaya meluruskan perilaku menyimpang rekan-rekan kuliahnya yang lain.

Sebagai anak laki-laki tunggal, Karim memilih tinggal bersama kedua orang tuanya hingga usianya mendekati tiga puluh tahun. Selama masa itu, ia terus berupaya memperbaiki hubungan mereka yang retak. Meskipun ia berhasil meminimalisasi pertengkaran, ia gagal mendamaikan ibunya dengan ayahnya. Sang ibu tak memiliki kesabaran untuk menahan diri dari ucapan suaminya, yang ironisnya juga tak mampu menjaga lisannya dari kata-kata buruk meski hanya sejam.

Suatu hari, sang ibu membuka pembicaraan serius mengenai pernikahan. Ia ingin melihat cucu-cucunya sebelum ajal menjemput dan ingin melihat seorang wanita salehah di sisi putranya. Karim hanya tersenyum. “Apa pun akan kulakukan, kecuali pernikahan, wahai Ibu,” jawabnya. Ibunya menyahut dengan nada sedih, “Aku tidak menginginkan apa pun selain pernikahanmu. Sampai kapan aku harus mendengar jawaban yang itu-itu saja sejak engkau lulus?”

Karim menunduk. “Ini akan tetap menjadi jawabanku selama aku belum menemukan gadis yang mampu menggantikan posisi hatimu.” Ibunya menimpali, “Di antara putri-putri bibimu terdapat banyak kebaikan. Pilihlah siapa saja yang engkau kehendaki.” Karim kembali tersenyum. “Demikian pula di antara putri-putri pamanku terdapat kebaikan, bukankah begitu?” Ibunya membalas dengan nada tajam, “Itu adalah kalimat ayahmu! Bagaimana mungkin bintang tsuraya disetarakan dengan tanah!”

“Jangan engkau halangi impianku ini, wahai Karim. Biarkanlah aku menikahkanmu,” pinta ibunya. Karim tertawa. “Ayahku juga memiliki impian yang serupa. Lantas bagaimana jika aku mengabulkan keinginan kalian berdua sekaligus? Dengan demikian, aku akan memiliki dua istri dalam satu waktu,” candanya. Ibunya menyahut keras, “Tidak, hal itu tidak akan pernah terjadi!” Karim membalas, “Jika begitu, mari kita tinggalkan urusan ini sampai…” Ibunya memotong dengan nada pilu, “Sampai aku mati, bukankah begitu maksudmu?”

Dialog serupa sering terulang. Karim bersikeras untuk tidak menikah, meskipun ia sendiri tak mampu merasionalisasikan alasan pastinya. Namun, ia yakin perselisihan kedua orang tuanya yang tak kunjung reda, berpadu dengan krisis kepercayaannya terhadap karakter gadis zaman sekarang, menjadi faktor utama di balik pilihannya untuk melajang. Ia tak bisa melupakan tabiat emosional ibunya yang menjadi sumber kesengsaraan di rumah itu. Meskipun ayahnya bukan pria berdarah dingin, ia dinilai jauh lebih penyabar. Jika situasi rumah sudah menyesakkan, sang ayah biasanya memilih pergi.

Sebenarnya, Karim merasa tersiksa dengan pilihannya. Ia memandang pernikahan sebagai sarana penyempurna diri dan jalan alami untuk melahirkan generasi baru yang akan mengemban risalah Allah. Namun, cara pandangnya yang negatif terhadap karakter wanita zaman sekarang sama sekali tak memotivasinya untuk membangun rumah tangga. Alhasil, ia mempertahankan status lajangnya dengan segala konsekuensinya.

Sebagai seorang profesional, ia menyibukkan diri dengan hiburan positif: memantau perkembangan sains dan mendengarkan ceramah keagamaan melalui siaran radio. Pada suatu hari, suara penyiar wanita yang lembut dan menarik tengah membedah problematika yang persis sama dengan masalah hidupnya. Siaran itu mengulas pandangan Islam tentang pernikahan dan hidup melajang, yang disarikan dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya.

Karim mendengarkan dengan khusyuk saat penyiar membacakan firman Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 21: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang… Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Bagi Karim, momentum itu terasa seperti pertama kalinya ia mendengar ayat tersebut. Eksistensi dua jenis kelamin adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang hanya dapat ditangkap oleh orang-orang yang mau berpikir objektif. Di antara tanda-tanda itu adalah ketenteraman (sakinah), rasa cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah) yang ditemukan pada pasangan. Manusia merefleksikan rasa kekurangan di dalam dirinya yang tak akan pernah dapat dipenuhi kecuali oleh kehadiran seorang wanita.

Sentakan kesadaran kedua menghantam batinnya saat penyiar membacakan sabda Rasulullah: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kamu yang telah mampu menikah, maka menikahlah…” Karim mencoba membela diri di dalam hati. Ia meyakini bahwa pilihannya untuk melajang bukan karena lari dari tanggung jawab, melainkan karena belum menemukan sosok wanita yang memenuhi kriteria luhur. Ia berharap alasan itu dapat diterima sebagai uzur di hadapan Allah. Namun, seluruh argumentasi pembelaannya runtuh tanpa sisa. Kini, tidak ada celah lagi baginya kecuali melangkah menuju pernikahan dengan berpegang pada tiga pilar utama: sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Di antara barisan para siswi, Karim tak sengaja memperhatikan seorang gadis yang penampilannya menonjol. Ia mengenakan gaun panjang, berhijab rapi, dan memiliki gerak-gerik yang sangat sopan. Karim seketika merasakan kedamaian batin saat melihatnya. Kebetulan, ayah gadis itu adalah seorang pedagang terhormat yang menjadi salah satu pasien favoritnya. Karim pun membulatkan tekad untuk mengutarakan niatnya langsung kepada sang ayah.

Ketika pria tua itu datang berkunjung ke kliniknya, Karim justru ragu dan kebingungan memilih kata-kata. Kejutan besar terjadi ketika sang ayah mendahuluinya dengan bertanya, “Apakah engkau tidak memiliki keinginan untuk menikah?” Karim menjawab dengan gugup, “Tentu saja aku ingin, tetapi…” Pria itu memotong, “Jangan ragu, kami mungkin bisa membantumu. Aku memiliki seorang putri yang cocok untukmu, ikutlah bersamaku untuk melihatnya.” Karim pun berkunjung ke rumahnya setelah isya. Begitu melihat sosok gadis bernama Amnah, ia langsung menemukan seluruh kriteria wanita yang diimpikannya.

Ia kembali ke rumah dengan perasaan puas. Sang pemilik rumah berjanji agar Karim bersedia datang untuk kunjungan kedua. Kunjungan itu ia gunakan untuk sebuah rencana tersembunyi: menguji kualitas akhlak Amnah. Saat Amnah menyajikan secangkir kopi, Karim dengan sengaja menumpahkan kopi panas itu tepat di atas gaunnya. Ia segera berpura-pura meminta maaf. Di luar dugaan, Amnah sama sekali tidak terpengaruh. Ia hanya pamit dengan tenang, lalu kembali beberapa saat kemudian dengan gaun yang baru. Amnah pun lulus dengan nilai sempurna dalam ujian karakter rahasia itu.

Pernikahan mereka berlangsung dengan kebahagiaan yang nyata. Namun, pada suatu hari, Karim pulang dari klinik dalam kondisi sangat letih. Ia merebahkan tubuhnya di sofa dengan kasar. Amnah dengan penuh perhatian menghampirinya, menyeka wajah suaminya dengan handuk basah yang segar, lalu mengajaknya pindah ke tempat tidur agar lebih nyaman. Bukannya berterima kasih, Karim justru mendorong istrinya dengan kasar seraya membentak, “Biarkan aku seperti ini!”

Untuk pertama kalinya dalam enam bulan usia pernikahan mereka, Amnah berkata dengan nada ketus, “Sebenarnya engkau bisa bersikap sedikit lebih lembut.” Ucapan itu seketika menghalau rasa lelah Karim. Ia bertanya dengan penuh keterkejutan, “Astaga, apa arti kekasaran ini? Di mana letak kesabaranmu yang menjadi alasan utamaku untuk menikahimu?!” Amnah menjawab, “Kesabaranku? Mari ikut denganku agar engkau tahu di mana letak kesabaranku.” Ia menarik suaminya ke dapur dan mengeluarkan sebuah meja kecil yang hancur dari bawah meja makan.

“Lihat, apa yang engkau saksikan di sini?” tanya Amnah. “Sebuah meja yang hancur berkeping-keping. Tapi apa maksud dari semua ini?” jawab Karim. Amnah menegaskan, “Aku ingin memperlihatkan kepadamu bahwa aku adalah manusia biasa sepertimu. Aku bisa bersikap setenang air saat rida, tetapi aku juga bisa mengamuk hingga mampu menghancurkan meja dengan gigiku saat marah.” Karim masih belum paham. Amnah menerangkan, “Aku menghancurkan meja ini pada hari ketika engkau sengaja menumpahkan kopimu ke atas gaunku dahulu. Aku ingin engkau tahu sekarang bahwa setiap aksi memiliki reaksi, dan setiap kesabaran pasti memiliki batasnya.”

Mendengar penjelasan itu, Karim mengakui, “Engkau benar, engkau sangat benar.” Ia lalu mengajak istrinya untuk menyepakati sebuah metode, “Mari kita terapkan apa yang diajarkan oleh sahabat yang mulia, Abu al-Darda r.a. Ia pernah berpesan kepada istrinya: ‘Jika aku sedang marah maka redakanlah amarahku, dan jika engkau sedang marah maka aku pasti akan meredakan amarahmu… Karena jika kita tidak saling mengalah, kita akan segera berpisah.’” Amnah tertawa lepas. “Atas prinsip inilah aku berjanji kepadamu,” katanya. Karim pun menutupnya, “Dan atas prinsip ini pula aku berjanji kepadamu.”

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags