Program Magang Nasional Bantu Ekonomi Keluarga, 67 Persen Peserta Rasakan Manfaat Signifikan

- Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35 WIB
Program Magang Nasional Bantu Ekonomi Keluarga, 67 Persen Peserta Rasakan Manfaat Signifikan

Pemerintah mencatat bahwa program magang nasional yang tengah berjalan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi peserta dan keluarganya, seiring dengan upaya memperkuat pasar tenaga kerja di dalam negeri. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, mengungkapkan bahwa mayoritas peserta merasakan perbaikan kondisi ekonomi keluarga berkat dukungan dana saku yang diterima selama masa magang.

Dalam jumpa pers di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (22/6/2026), Yassierli memaparkan data kepuasan peserta terhadap manfaat finansial program tersebut. Sebanyak 36,52 persen peserta menyatakan bahwa dana saku sangat membantu kondisi ekonomi keluarga, sementara 30,61 persen menilai cukup membantu. Di sisi lain, 30,45 persen mengaku tidak terbantu, dan hanya 2,07 persen yang menyatakan sangat tidak terbantu, serta 0,35 persen lainnya berada dalam kategori serupa.

Data tersebut menunjukkan bahwa uang saku yang diterima para pemagang memiliki peran vital dalam meringankan beban ekonomi rumah tangga sehari-hari. Namun, dampak program ini tidak hanya terbatas pada aspek finansial. Berdasarkan evaluasi terhadap sekitar 65.000 peserta, tingkat kepuasan terhadap aspek non-finansial juga tercatat positif. Sekitar 52,13 persen peserta menyatakan puas, 32,13 persen cukup puas, dan 15,05 persen tidak puas. Hanya sebagian kecil, yakni 0,29 persen dan 0,42 persen, yang masing-masing menyatakan sangat tidak puas.

Secara keseluruhan, hampir 67 persen peserta merasa program ini sangat membantu perkembangan mereka, ditambah 30,45 persen yang merasa cukup terbantu. Sementara itu, hanya 2,42 persen peserta yang menilai uang saku yang diterima belum terasa substansial.

Selain menopang aspek finansial, efektivitas program ini juga diukur dari kepuasan peserta dan peluang serapan tenaga kerja setelah masa magang berakhir. Evaluasi terhadap puluhan ribu alumni menunjukkan tren positif terkait tawaran kerja langsung dari sektor-sektor industri dengan permintaan pasar yang tinggi. Yassierli memaparkan bahwa 30 persen peserta mendapatkan tawaran pekerjaan dari tempat magang, meskipun sebagian menolak karena telah diterima di tempat lain. Sementara itu, 33 persen peserta belum mendapatkan tawaran, tetapi terdapat indikasi akan ada, dan 37 persen lainnya tidak mendapatkan tawaran hingga masa magang selesai.

Konsentrasi penawaran kerja terpusat di sektor keuangan, perdagangan besar atau wholesale trade, dan manufaktur. Hal ini menggambarkan tingginya kebutuhan pasar industri terhadap talenta siap kerja yang dihasilkan dari program magang pemerintah. Yassierli menambahkan bahwa program magang nasional setidaknya dapat memperlebar ekspektasi pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran, meskipun sifatnya tidak komprehensif.

Meskipun demikian, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperbaiki dalam pelaksanaan program ini. Pemerintah menargetkan peningkatan di beberapa sektor penyelenggaraan pada tahun 2026 mendatang. "Kami memiliki beberapa PR terkait dengan bagaimana kita melakukan improvement pada tahun 2026 ini, terkait dengan sebaran calon peserta magang dan sebaran kejuruan atau profesi tempat magang," kata Yassierli.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar