Pemerintah memutuskan menunda realisasi insentif pembelian sepeda motor listrik. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa program subsidi baru dapat digulirkan pada Agustus 2026 mendatang, mundur satu bulan dari jadwal yang sebelumnya direncanakan.
"Insentif motor listrik kemarin dikaji lagi, tambahan satu bulan," ujar Airlangga usai jumpa pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (22/6/2026).
Saat dikonfirmasi mengenai faktor yang melatarbelakangi penundaan stimulus bagi kendaraan ramah lingkungan ini, Airlangga menjelaskan bahwa mekanisme penerapannya masih berada dalam tahap evaluasi mendalam. "Masih dikaji lagi, iya ditunda lagi, sementara dikaji dulu. (Alasan ditunda) masih terus dikaji," katanya.
Pada rencana awal, pemerintah berniat mengalokasikan kuota insentif bagi 200.000 unit kendaraan listrik. Jumlah tersebut terbagi rata, masing-masing sebanyak 100.000 unit untuk kategori sepeda motor dan mobil. Agenda penyaluran bantuan fiskal ini mulanya dijadwalkan terealisasi mulai Juni 2026, namun rencana tersebut batal terlaksana sesuai tenggat semula.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa insentif kendaraan listrik akan dilakukan secara bertahap, dimulai pada tahun ini. Jumlah unit kendaraan yang mendapat insentif masih dalam perumusan. Pemerintah menargetkan insentif untuk enam juta kendaraan listrik di tahap awal.
"Tahun ini (mulai berlaku insentif). Ya tidak semuanya, bertahap lah. Subsidi mungkin lima juta per motor, lima juta rupiah, atau lebih. Yang jelas saya masih diskusi dulu dengan Menteri Perindustrian, Menko Perekonomian, dan kami laporkan lagi ke Presiden sesuai dengan petunjuk pada waktu itu," kata Purbaya beberapa waktu lalu.
Wacana insentif pajak ini beririsan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 11 Tahun 2026 yang menetapkan besaran pajak kendaraan, termasuk kendaraan listrik berbasis baterai (KLBB) atau battery electric vehicle (BEV).
Sementara itu, data pada Januari hingga Maret menunjukkan penjualan BEV melonjak 96 persen menjadi 33.146 unit dari 16.926 unit. Angka ini melampaui pertumbuhan industri yang hanya 1,7 persen. Sebaliknya, penjualan mobil Internal Combustion Engine (ICE) justru ambles dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit. Hingga akhir 2026, porsi BEV diprediksi melambung menjadi berkisar 19 hingga 20 persen.
Artikel Terkait
Kemendag Lepas Ekspor Fabrikasi Baja Struktural ke Kanada Senilai Rp3,85 Miliar
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Ribuan Bal Pakaian Bekas Ilegal dari Perbatasan Kalimantan
Ronaldo Cetak Sejarah: Gol di Enam Edisi Piala Dunia Berbeda
Inggris vs Ghana Perebutkan Puncak Klasemen Grup L Piala Dunia 2026, Pemenang Laga Langsung Lolos ke 32 Besar