Bursa saham Amerika Serikat memulai pekan ini dengan gerak terbatas, di mana indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan tipis pada Senin (22/6/2026) waktu setempat. Pergerakan ini didorong oleh sektor teknologi dan keuangan, seiring investor mencermati perkembangan terbaru dari negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, di tengah optimisme tersebut, indeks Nasdaq Composite justru melemah tipis.
Berdasarkan data perdagangan, hingga pukul 09.53 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average naik 261,38 poin atau 0,51 persen ke level 51.826,08. Sementara itu, S&P 500 menguat 23,77 poin atau 0,32 persen menjadi 7.524,35. Di sisi lain, Nasdaq Composite terkoreksi 1,52 poin atau 0,01 persen ke posisi 26.515,06. Dari 11 sektor utama S&P 500, tujuh di antaranya berada di zona hijau, dengan sektor keuangan memimpin kenaikan sebesar 1 persen.
Namun, tidak semua sektor menikmati momentum positif. Sektor jasa komunikasi menjadi yang terlemah dengan penurunan 2,3 persen. Tekanan tambahan datang dari saham Alphabet dan SpaceX yang masing-masing ambles 3,8 persen dan 7,9 persen, sehingga membebani kinerja Nasdaq. Di pasar komoditas, harga minyak mentah turun hingga 2 persen setelah Washington dan Teheran sepakat untuk mencapai kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari.
Harapan akan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah telah membantu ketiga indeks utama mengakhiri perdagangan pekan lalu dengan kenaikan mingguan yang signifikan. Nasdaq bahkan melonjak 2,4 persen pada Kamis, didorong oleh saham teknologi yang terus menjadi motor penggerak pasar. Meskipun demikian, para analis mengingatkan bahwa situasi geopolitik masih menyisakan ketidakpastian.
“Meskipun pasar telah menunjukkan ketahanan dalam beberapa pekan terakhir dengan harapan konflik Timur Tengah dapat diselesaikan dan kita tidak melihat lingkungan inflasi tinggi yang berkelanjutan, konflik Timur Tengah masih merupakan isu utama. Itu berarti investor tidak sepenuhnya berada dalam suasana ‘risk-on’,” ujar Kepala Pasar di AJ Bell, Dan Coatsworth, dalam pernyataannya.
Optimisme yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah menjadi penopang utama reli Wall Street belakangan ini. Ekonomi yang tetap tangguh serta harapan akan berakhirnya konflik Timur Tengah yang telah berlangsung selama empat bulan turut memperkuat sentimen pasar secara keseluruhan. Ujian selanjutnya bagi reli ini adalah laporan keuangan kuartalan Micron Technology yang akan dirilis pada Rabu. Saham produsen chip memori tersebut telah melonjak hampir 300 persen sepanjang tahun ini.
Fokus utama investor pada pekan ini adalah data pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang akan dirilis pada Kamis. Indikator ini menjadi tolok ukur utama bagi Federal Reserve dalam mengukur inflasi inti. Jika angka yang keluar lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi terhadap sikap agresif bank sentral AS akan semakin kuat, terutama setelah Ketua Fed Kevin Warsh menekankan perlunya mengekang inflasi dalam pertemuan pekan lalu.
Saat ini, pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dari Fed pada September, berdasarkan data LSEG. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor dua tahun, yang mencerminkan ekspektasi suku bunga jangka pendek, mencapai level tertinggi sejak awal 2025 di angka 4,230 persen pada awal perdagangan hari ini. Sementara itu, indeks S&P 500 mencatatkan 19 rekor tertinggi baru dan 19 rekor terendah baru dalam 52 pekan terakhir, sedangkan Nasdaq Composite mencatatkan 103 rekor tertinggi baru dan 74 rekor terendah baru.
Artikel Terkait
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Ribuan Bal Pakaian Bekas Ilegal dari Perbatasan Kalimantan
Ronaldo Cetak Sejarah: Gol di Enam Edisi Piala Dunia Berbeda
Inggris vs Ghana Perebutkan Puncak Klasemen Grup L Piala Dunia 2026, Pemenang Laga Langsung Lolos ke 32 Besar
Lazio Resmi Tunjuk Gennaro Gattuso sebagai Pelatih Baru untuk Musim 2026/2027