Perdana Menteri Inggris Keir Starmer Mundur di Tengah Kontras Popularitas Internasional dan Krisis Domestik

- Senin, 22 Juni 2026 | 18:10 WIB
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer Mundur di Tengah Kontras Popularitas Internasional dan Krisis Domestik

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin (22/6), hampir dua tahun setelah membawa Partai Buruh meraih kemenangan telak atas Partai Konservatif pada 2024. Dalam pidato perpisahan yang emosional, suara pria berusia 63 tahun itu bergetar dan matanya tampak berkaca-kaca saat ia memberikan penghormatan kepada keluarganya, sebelum akhirnya dipeluk erat oleh istrinya. Ia menyebut masa jabatannya sebagai perdana menteri adalah “momen paling membanggakan dalam hidupnya,” namun ia menerima bahwa langkah mundur ini harus diambil “dengan lapang dada.”

Kepergian Starmer terjadi di tengah ironi yang mencolok. Di panggung internasional, ia menuai pujian karena berani melawan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait perang Iran dan konsisten mempertahankan dukungan Eropa untuk Ukraina. Langkahnya memperkuat hubungan dengan Uni Eropa pasca-referendum Brexit 2016 juga disambut positif oleh sebagian kalangan. Namun, di dalam negeri, jajak pendapat menempatkannya sebagai perdana menteri paling tidak populer dalam beberapa dekade terakhir.

Kontradiksi ini berakar dari gaya kepemimpinan dan serangkaian kebijakan yang dianggap gagal memenuhi ekspektasi publik. Saat berpidato untuk pertama kalinya sebagai perdana menteri pada 5 Juli 2024, Starmer berjanji akan menghadirkan pemerintahan yang “berorientasi pelayanan” dan “lebih berhati-hati” dalam kehidupan masyarakat. Ia berusaha menjadikan pendekatan yang terukur sebagai keunggulan utama. Namun, sejak awal masa pemerintahannya dihantui oleh perubahan haluan yang membingungkan dan kesalahan langkah yang berulang.

Kebijakan-kebijakan yang tidak konsisten ini bahkan membuat para pendukung setia Partai Buruh merasa frustrasi. Mantan pengacara hak asasi manusia itu kesulitan mewujudkan citranya sebagai sosok yang dapat diandalkan. Sikapnya yang terlalu ilmiah dan santai, serta dianggap kurang memiliki pegangan ideologis yang jelas, justru membuat para pemilih semakin menjauh. Kolom-kolom tajam di media Inggris menggambarkannya sebagai pemimpin yang kurang teguh pendirian, ragu-ragu dalam mengambil keputusan penting, dan kerap mengorbankan orang lain demi menyelamatkan posisinya.

Di sisi lain, Starmer menyoroti sejumlah pencapaian yang ia wariskan, termasuk penurunan daftar tunggu pasien di Layanan Kesehatan Nasional. Namun, capaian tersebut seolah tenggelam di tengah kritik pedas yang terus menghujam. Kini, setelah hampir dua tahun memerintah, ia memilih mundur di tengah tekanan yang tak kunjung reda, meninggalkan warisan yang pahit di dalam negeri meskipun disegani di luar batas negaranya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar