Menteri Keuangan Optimistis Harga Pertamax Segera Turun Imbas Prospek Damai AS-Iran

- Senin, 22 Juni 2026 | 13:35 WIB
Menteri Keuangan Optimistis Harga Pertamax Segera Turun Imbas Prospek Damai AS-Iran

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, seperti Pertamax dan Pertamax Green 95, akan segera mengalami penurunan dalam waktu dekat. Keyakinan ini muncul seiring dengan prospek tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diperkirakan mampu menekan harga minyak mentah di pasar global.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya sebagai respons atas kebijakan evaluasi tarif energi pada 9 Juni 2026 lalu, yang sempat mendorong kenaikan harga sejumlah produk BBM nonsubsidi akibat gejolak eksternal. Dalam rapat kerja bersama Komite IV DPD RI, Senin (22/6/2026), ia menjelaskan bahwa penurunan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada harga BBM di dalam negeri.

"Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun sehingga pondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat," ujar Purbaya.

Di sisi lain, Menteri Keuangan tidak menampik bahwa lonjakan harga minyak mentah global telah menjadi salah satu tekanan signifikan yang membebani postur fiskal dan perekonomian nasional selama beberapa waktu terakhir. Kondisi ini memaksa pemerintah melakukan penyesuaian tarif pada sebagian instrumen BBM nonsubsidi guna membendung pembengkakan subsidi anggaran negara.

"Jadi memang ketika ketidakpastian meningkat seperti kemarin, harga minyak dunia tinggi sekali, kita dalam ujian yang berat," kata Purbaya.

Sementara itu, mencermati perkembangan konstelasi geopolitik yang kian kondusif serta tren penurunan harga minyak dunia saat ini, Purbaya memproyeksikan performa perekonomian nasional pada kuartal kedua 2026 akan bergerak ke arah yang lebih sehat. Redanya tekanan eksternal ini diharapkan mampu menstimulasi laju pertumbuhan domestik secara lebih ekspansif.

"Kalau dilihat dari data yang sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan, tinggal memperbaiki pondasi yang sudah ada supaya dengan perbaikan yang ada, kita bisa tumbuh lebih optimal," ujar Purbaya.

Ia menambahkan bahwa berbagai kebijakan tidak populer yang diambil pemerintah beberapa waktu lalu semata-mata bertindak sebagai jangkar pengaman darurat agar roda ekonomi nasional tidak terseret arus krisis global. Meskipun situasi tidak ideal, langkah tersebut dinilai perlu untuk memitigasi dampak negatif dari gejolak internasional.

"Jadi keadaan memang bukan ideal, tetapi kita terpaksa mengambil tindakan untuk memitigasi dampak global supaya kita masih bisa bertahan dan alhamdulillah sampai sekarang masih bisa tumbuh baik," kata Purbaya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar