Penutupan kembali Selat Hormuz oleh otoritas Iran menjadi babak baru dalam ketegangan Timur Tengah yang semakin kompleks. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap serangan militer Israel di Lebanon selatan, dan terjadi di tengah dimulainya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Swiss. Kedua negara adidaya itu baru saja menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan di antara mereka.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan bahwa keputusan untuk menutup jalur air strategis tersebut tidak akan dicabut dalam waktu dekat. Mengutip seorang pejabat Iran yang dekat dengan tim negosiasi AS-Iran, Tasnim menyatakan bahwa Selat Hormuz baru akan dibuka kembali jika gencatan senjata di Lebanon benar-benar dihormati. Sumber yang sama juga menegaskan bahwa jalur pelayaran vital dunia itu tetap tertutup hingga izin penjualan minyak Iran resmi dikeluarkan oleh pihak terkait.
Informasi serupa disampaikan oleh kantor berita Fars, yang mengutip sumber dari kalangan militer. Fars melaporkan bahwa hingga saat ini, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran belum mengeluarkan izin bagi kapal mana pun untuk melintasi Selat Hormuz. Kebijakan ini akan berlaku sampai ada pemberitahuan lebih lanjut, mempertegas sikap keras Teheran terhadap situasi di kawasan.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama 60 hari sebagai ruang negosiasi menuju kesepakatan damai. Namun, kesepakatan itu terus terusik. Pada hari Sabtu lalu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Langkah ini disebut sebagai bentuk tanggapan langsung atas serangan Israel di Lebanon yang dinilai melanggar kesepakatan bersama untuk mengakhiri perang.
Di sisi lain, klaim Iran tentang penutupan Selat Hormuz langsung dibantah oleh militer Amerika Serikat. Pihak Pentagon menyatakan bahwa lalu lintas kapal di jalur tersebut tetap berjalan normal dan tidak ada gangguan yang berarti. Seorang pejabat AS juga mengungkapkan bahwa Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon telah menyepakati gencatan senjata pada Jumat lalu. Pengumuman ini muncul setelah serangan udara bertubi-tubi yang dilancarkan Israel di Lebanon selatan, yang menurut laporan menewaskan sedikitnya 47 orang.
Artikel Terkait
Danrem 072/Pamungkas Tarik Paksa Ajudan yang Tak Pakai Nomor Peserta di Jogja Maraton, Korem Sebut Sudah Damai
Dirjen Imigrasi Instruksikan Jajarannya Kooperatif Penuh dengan KPK dalam Kasus Dugaan Pemerasan Izin Tinggal WNA
Pencuri Gasak Puluhan Alat Elektronik SMK di Pandeglang, Kerugian Capai Rp37 Juta
Mobil Listrik BMW Tabrak Pemotor di Jakbar, Warga Amuk dan Rusak Kendaraan