Menkeu Purbaya Paparkan Ketangguhan Ekonomi RI di Hadapan Akademisi Tiongkok: Tumbuh 5,61 Persen, Inflasi Terkendali

- Senin, 22 Juni 2026 | 08:00 WIB
Menkeu Purbaya Paparkan Ketangguhan Ekonomi RI di Hadapan Akademisi Tiongkok: Tumbuh 5,61 Persen, Inflasi Terkendali

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, memaparkan ketangguhan fundamental ekonomi nasional di hadapan civitas akademika Nankai University, Tianjin, Tiongkok, pekan lalu.

Dalam kuliah umum yang digelar pada 19 Juni 2026 itu, Purbaya menyampaikan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi prima. Ia menegaskan, pengelolaan fiskal yang sehat dan prudent menjadi penopang utama, dengan defisit anggaran yang konsisten berada di bawah ambang batas amanat undang-undang sebesar tiga persen.

Di tengah mulai stabilnya pasar global, seiring meredanya volatilitas dan membaiknya sentimen risiko, perekonomian domestik justru tampil menonjol. Realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 menembus angka 5,61 persen secara tahunan. Angka ini menempatkan performa Indonesia di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara G20 dan kawasan ASEAN.

Kinerja impresif tersebut didukung oleh stabilitas harga yang terjaga. Per Mei 2026, tingkat inflasi tercatat di level 3,08 persen. Kombinasi antara pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang terkendali, menurut Purbaya, semakin mempertebal kepercayaan pasar global terhadap kredibilitas manajemen makroekonomi Indonesia.

"Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB Kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen yoy, mengungguli banyak negara ekonomi G20 dan ASEAN. Di saat yang sama, kami mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi Mei 2026 sebesar 3,08 persen. Perkembangan ini membuktikan bahwa Indonesia memasuki periode ini dengan pertumbuhan yang kuat, inflasi terkendali, dan ketahanan kebijakan yang kredibel," ujar Purbaya dalam pidato ilmiahnya.

Lebih lanjut, Menkeu memaparkan bahwa Indonesia berada dalam posisi yang sangat diuntungkan dalam menghadapi risiko gangguan energi global. Berdasarkan analisis risiko, posisi Indonesia berada pada kuadran eksposur rendah dengan penahan atau buffer yang kuat. Penilaian skor ketahanan energi global bahkan menempatkan Indonesia di angka 77 persen, berada di atas Tiongkok yang mencatatkan skor 76 persen dan hanya selisih tipis di bawah Afrika Selatan yang mencapai 79 persen.

Ketangguhan ini tidak lepas dari bauran kebijakan fiskal yang sehat dan hati-hati. Defisit yang dijaga ketat di bawah tiga persen memberikan ruang yang memadai bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk berfungsi optimal sebagai peredam gejolak eksternal tanpa mengorbankan stabilitas makro.

Purbaya menegaskan, seluruh indikator utama menunjukkan mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia kian bertenaga dan bergerak secara inklusif. Geliat ini tercermin dari Purchasing Managers' Index Manufaktur yang berada di level ekspansif 50,0, pertumbuhan likuiditas perekonomian sebesar 14,8 persen secara tahunan, serta pertumbuhan kredit perbankan yang melesat hingga 11,5 persen secara tahunan.

Selain itu, eksternalitas Indonesia diperkuat oleh catatan surplus neraca perdagangan yang bertahan selama 72 bulan berturut-turut. Kondisi ini diiringi cadangan devisa yang gemuk sebesar 144,9 miliar dolar AS, setara dengan 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Yang paling krusial, pertumbuhan ekonomi yang kokoh ini langsung ditranslasikan ke dalam peningkatan kesejahteraan riil masyarakat luas melalui perbaikan pasar tenaga kerja. Terjadinya penciptaan lapangan kerja baru bagi sekitar 1,9 juta orang berhasil menekan Tingkat Pengangguran Terbuka menjadi 4,68 persen pada tahun 2026. Di sisi lain, efektivitas program perlindungan sosial berhasil menurunkan tingkat kemiskinan secara konsisten, dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025.

Beralih dari mesin pertumbuhan menuju tahap implementasi, Indonesia kini memiliki delapan kluster program kerja prioritas nasional yang akan menerjemahkan strategi pembangunan ke dalam hasil yang nyata. "Prioritas tersebut mencakup fondasi ketahanan nasional: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan bencana," jelas Menkeu.

Pada saat yang sama, pemerintah sedang mempercepat transformasi struktural melalui hilirisasi dan industrialisasi, memperkuat ekonomi kerakyatan dan pembangunan pedesaan, serta memperdalam pengentasan kemiskinan melalui program bantuan sosial dan lapangan kerja yang terintegrasi. Program-program ini akan diperkuat oleh sektor pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, digitalisasi, serta diplomasi ekonomi.

"Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh di tingkat makro, melainkan juga secara nyata bertransformasi menjadi ketersediaan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, serta kesejahteraan masyarakat yang lebih luas dan merata," tegas Purbaya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi atas undangan untuk berbagi perspektif kebijakan ekonomi dan manajemen fiskal Indonesia di Nankai University. "Saya berharap dialog ini memperkuat pertukaran akademik, memperdalam pemahaman bersama, dan semakin meningkatkan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok," ujar Menkeu menutup pidatonya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags