SEMMI: Penjajahan Kini Halus Lewat Informasi, Nasionalisme Harus Diperbarui

- Senin, 22 Juni 2026 | 05:30 WIB
SEMMI: Penjajahan Kini Halus Lewat Informasi, Nasionalisme Harus Diperbarui

Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI), Muhammad Senanatha, menyatakan bahwa tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh berbeda dengan masa kolonial. Jika dahulu penjajahan tampak secara fisik, maka kini bentuknya lebih halus, yakni penjajahan atas kesadaran.

Ledakan teknologi informasi, menurut Senanatha, memang membuka akses pengetahuan yang luas. Namun, di sisi lain, kondisi ini juga melahirkan banjir disinformasi, polarisasi sosial, dan manipulasi opini publik. “Dalam kondisi seperti ini, menjaga kesadaran bangsa menjadi sama pentingnya dengan menjaga kedaulatan negara,” ujarnya di Jakarta, Minggu (21/6).

Ia menegaskan, nasionalisme tidak lagi cukup dimaknai sekadar kecintaan terhadap tanah air dalam pengertian simbolik. Nasionalisme, lanjut dia, harus hadir sebagai kesadaran untuk menjaga akal sehat publik, merawat persatuan, dan melindungi ruang kebangsaan dari informasi yang memecah belah masyarakat.

Senanatha mengingatkan bahwa Islam sejak awal telah memberikan panduan dalam menghadapi persoalan informasi. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, Allah memerintahkan umat untuk melakukan tabayyun ketika menerima sebuah berita. “Prinsip ini menegaskan bahwa memverifikasi informasi bukan hanya persoalan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan sosial,” katanya.

Persoalannya, di era digital, informasi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat untuk memeriksanya. Sering kali yang menjadi ukuran bukan lagi kebenaran, tetapi seberapa besar sebuah informasi mampu membangkitkan emosi publik. “Akibatnya, ruang digital dipenuhi pertarungan narasi yang lebih mengedepankan sentimen daripada fakta,” terangnya.

Fenomena ini, menurut Senanatha, dapat dibaca melalui pemikiran Ibn Khaldun mengenai ashabiyyah, yang menyatakan bahwa kekuatan suatu bangsa bertumpu pada solidaritas sosial dan kesadaran kolektif. “Ketika masyarakat lebih mudah terpecah oleh informasi yang belum tentu benar daripada dipersatukan oleh kepentingan bersama, maka fondasi kebangsaan sesungguhnya sedang mengalami pelemahan,” ucapnya.

Dalam situasi ini, generasi muda menjadi kelompok yang paling menentukan. Sebagai pengguna utama teknologi digital, mereka dapat menjadi pelopor pencerahan atau justru korban manipulasi informasi. “Karena itu, kemampuan berpikir kritis dan literasi digital harus menjadi bagian penting dari pembentukan karakter generasi muda Indonesia,” terang dia.

Ia menambahkan, di sinilah peran organisasi kader seperti SEMMI menjadi semakin relevan. Kaderisasi, lanjutnya, tidak boleh hanya melahirkan organisator, tetapi juga membentuk kader yang mampu menjaga akal sehat publik. Kader harus hadir sebagai pelopor literasi, persatuan, dan pendidikan masyarakat di tengah derasnya arus informasi yang sering kali menyesatkan.

“Pertarungan terbesar abad ini bukan lagi perebutan wilayah atau sumber daya alam, melainkan perebutan kesadaran. Kekuasaan hari ini bekerja melalui opini, persepsi, dan kemampuan memengaruhi cara berpikir masyarakat. Siapa yang mampu menguasai kesadaran generasi muda, akan memiliki pengaruh besar terhadap masa depan bangsa,” jelasnya.

Oleh karena itu, tantangan Indonesia bukan hanya mencetak generasi yang menguasai teknologi, tetapi generasi yang memiliki keteguhan nilai, daya kritis, dan kesadaran kebangsaan. Sebab, teknologi tanpa karakter hanya akan melahirkan kemajuan yang rapuh.

“Jika dahulu H.O.S. Tjokroaminoto dan para pendahulu bangsa berjuang melawan kolonialisme yang merampas kedaulatan tanah air, maka generasi hari ini menghadapi tugas yang berbeda: menjaga kedaulatan kesadaran bangsa. Sebab bangsa yang kehilangan wilayah masih dapat merebut kembali kemerdekaannya, tetapi bangsa yang kehilangan kesadarannya akan kehilangan kemampuan menentukan masa depannya sendiri. Di titik inilah nasionalisme menemukan makna barunya: menjaga arah, identitas, dan cita-cita Indonesia di tengah perang informasi yang semakin kompleks,” pungkasnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags