Ondel-Ondel Tak Sekadar Boneka Raksasa, Ini Filosofi di Balik Wajah Merah dan Putih

- Sabtu, 20 Juni 2026 | 14:05 WIB
Ondel-Ondel Tak Sekadar Boneka Raksasa, Ini Filosofi di Balik Wajah Merah dan Putih

Boneka raksasa khas Betawi, ondel-ondel, bukan sekadar tontonan yang kerap mengundang rasa penasaran atau bahkan ketakutan di masa kanak-kanak. Di balik postur tubuhnya yang menjulang, figur ini menyimpan lapisan filosofi yang sarat makna dan telah mengakar dalam tradisi masyarakat Jakarta sejak lama.

Menurut catatan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, ondel-ondel pada awalnya diciptakan sebagai simbol penjaga spiritual. Masyarakat Betawi tradisional mempercayai bahwa boneka ini memiliki kekuatan untuk menangkal gangguan gaib dan melindungi warga dari marabahaya. Kehadirannya yang selalu berpasangan bukan tanpa alasan; ondel-ondel laki-laki dengan wajah merah melambangkan keberanian dan kekuatan, sementara pasangan perempuannya yang berwajah putih merepresentasikan kebaikan dan kesucian.

Di atas kepala kedua boneka tersebut, terdapat hiasan warna-warni yang dikenal sebagai kembang kelapa. Ornamen ini bukan sekadar aksesori, melainkan simbol dari harapan, kemakmuran, dan kehidupan yang terus bertumbuh. Pada masa lalu, wajah ondel-ondel memang sengaja dibuat sangar, lengkap dengan taring yang menonjol, untuk memperkuat kesan magis dan kewibawaannya sebagai pelindung.

Namun, seiring berjalannya waktu, tampilan ondel-ondel mengalami transformasi. Wajahnya kini didesain lebih ramah dan bersahabat agar mudah diterima oleh berbagai kalangan, terutama anak-anak. Meskipun fisiknya berubah, makna inti dari ondel-ondel sebagai simbol perlindungan tetap dipertahankan.

Saat ini, ondel-ondel telah berevolusi menjadi salah satu ikon budaya Betawi yang paling dikenal. Boneka raksasa ini kerap hadir dalam berbagai perayaan dan acara kebudayaan. Di sejumlah kawasan Jakarta, masyarakat masih dapat menjumpai ondel-ondel yang berkeliling diiringi alunan musik khas Betawi, sebuah pemandangan yang menjadi pengingat akan kekayaan tradisi yang terus hidup di tengah modernitas ibu kota.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags