Taiwan secara resmi meluncurkan sebuah platform digital yang secara terbuka mengajak warga negara China untuk membocorkan informasi intelijen, sebuah langkah yang segera memicu kemarahan Beijing. Inisiatif ini diumumkan oleh Biro Keamanan Nasional Taiwan (NSB) pada Senin, 15 Juni 2026, melalui sebuah video promosi berdurasi satu menit yang seluruhnya dihasilkan oleh kecerdasan buatan atau AI.
Dalam video tersebut, digambarkan seorang pegawai negeri sipil China yang menyaksikan rekan-rekannya diberhentikan dan diselidiki. Cuplikan itu, menurut pernyataan NSB, dirancang untuk mencerminkan suasana tegang yang meluas di bawah rezim totaliter China. Otoritas Taipei secara eksplisit mengundang warga negara China yang memiliki nilai-nilai demokrasi yang sama untuk bekerja sama dalam melaporkan aktivitas Beijing.
NSB mengklaim bahwa semakin banyak orang dari China daratan yang menghubungi lembaga-lembaga di Taiwan dengan keinginan untuk memberikan berbagai jenis informasi. Saluran pelaporan ini, menurut NSB, didasarkan pada praktik yang telah diadopsi oleh badan-badan intelijen di Amerika Serikat, Inggris, dan Israel. Setiap pengajuan informasi akan melalui proses penyaringan ketat, evaluasi, dan tindak lanjut menggunakan teknologi.
Sementara itu, China mengecam keras langkah Taiwan tersebut. Beijing selama ini mengklaim Taiwan, yang memiliki pemerintahan demokratis, sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya dan telah berulang kali mengancam akan menggunakan kekerasan untuk merebutnya. Ketegangan antara kedua pihak semakin memuncak, dengan Taipei menuduh Beijing menggunakan spionase dan infiltrasi untuk melemahkan pertahanan Taiwan.
Artikel Terkait
Dua Pemuda Babak Belur Dihakimi Warga Usai Gagal Curi Motor di Parung Panjang
MSCI Pertahankan Status Emerging Market Indonesia, Dinilai Jadi Katalis Positif Aliran Dana Asing
Kebakaran Rumah di Kemayoran, 18 Mobil Damkar Dikerahkan untuk Pendinginan
Dua Kapal Perang Jerman Mulai Melintasi Terusan Suez Menuju Persiapan Misi Sapu Ranjau di Selat Hormuz