Pertanyaan “Kapan punya anak?” yang kerap dilontarkan keluarga, kerabat, hingga tetangga, terutama saat momen Lebaran, ternyata menyimpan tekanan psikologis yang mendalam bagi pasangan yang sedang berjuang memiliki keturunan. Alih-alih mencairkan suasana, pertanyaan tersebut justru membuat para pejuang garis dua sebutan bagi pasangan yang tengah menjalani program kehamilan memilih untuk menjauh dan bersembunyi dari keramaian. Di tengah kebahagiaan hari raya, mereka harus menghadapi tekanan sosial yang kerap mengabaikan perjuangan yang telah dilakukan di balik layar.
Praktisi Kesehatan Masyarakat, dr. Ngabila Salama, menyoroti fenomena ini dalam sebuah wawancara khusus. Menurutnya, tekanan sosial yang dialami pasangan infertil istilah medis untuk ketidaksuburan sangat nyata dan kerap memuncak pada momen-momen berkumpul bersama keluarga besar.
“Tentu tekanan-tekanan sosial, apalagi sudah ketemu Lebaran. Orang-orang, teman-teman kita yang infertilitas, kadang-kadang sudah rasanya pengin ngumpet. Tolonglah kami ini lagi berjuang,” ujar dr. Ngabila.
Di sisi lain, budaya ketimuran seperti di Indonesia kerap menempatkan stigma hampir sepenuhnya pada pihak perempuan. Padahal, fakta medis menunjukkan gambaran yang berbeda. Dokter Ngabila menegaskan bahwa tanggung jawab atas kondisi infertilitas tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja.
“50 persen penyebabnya kemungkinan wanita, 50 persen pria. Tapi di kultur kita yang ketimuran ini, kadang-kadang kita langsung menstigma kepada perempuan,” tegasnya.
Berdasarkan kenyataan tersebut, dr. Ngabila mendorong pasangan suami-istri untuk lebih proaktif melakukan pemeriksaan medis sejak dini. Banyak faktor yang dapat memengaruhi kesuburan, mulai dari gangguan kesehatan hingga obesitas, yang sering kali tidak disadari.
“Oleh karena itu, sebagai langkah kehati-hatian, saran saya di enam bulan tersebut sudah melakukan konseling kepada dokter spesialis. Baik itu ke dokter kandungan, minimal USG saja dulu. Atau kalau laki-laki ada indikasi, bisa juga ke spesialis andrologi. Nanti akan dilihat bagaimana permasalahan kesehatan, kualitas sperma, apakah ada obesitas, gangguan kesehatan, diabetes melitus, atau penyakit kronik lainnya, sehingga tidak sampai menunggu satu tahun,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Dua Pemuda Babak Belur Dihakimi Warga Usai Gagal Curi Motor di Parung Panjang
MSCI Pertahankan Status Emerging Market Indonesia, Dinilai Jadi Katalis Positif Aliran Dana Asing
Kebakaran Rumah di Kemayoran, 18 Mobil Damkar Dikerahkan untuk Pendinginan
Dua Kapal Perang Jerman Mulai Melintasi Terusan Suez Menuju Persiapan Misi Sapu Ranjau di Selat Hormuz