Defisit Perdagangan Jepang Kembali Tercatat Akibat Pelemahan Yen dan Lonjakan Impor

- Rabu, 17 Juni 2026 | 14:20 WIB
Defisit Perdagangan Jepang Kembali Tercatat Akibat Pelemahan Yen dan Lonjakan Impor

Neraca perdagangan Jepang mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam empat bulan terakhir, dipicu oleh pelemahan nilai tukar yen yang mendorong lonjakan nilai impor. Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Keuangan, defisit perdagangan pada Mei 2026 mencapai 378,6 miliar yen, atau setara dengan sekitar Rp42 triliun. Angka ini menjadi sinyal awal tekanan pada perekonomian Negeri Sakura di tengah ketidakpastian global.

Sepanjang bulan lalu, nilai impor Jepang meningkat 12,5 persen, sementara nilai ekspor tercatat naik 17 persen. Namun, laju pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor menjadi faktor utama terjadinya defisit. Kondisi ini tidak lepas dari posisi yen yang terus terpuruk. Mengutip laporan Bloomberg pada Rabu (17/6/2026), rata-rata nilai tukar yen berada di level 158,29 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada bulan lalu. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yen melemah sekitar 10 persen terhadap dolar AS.

Pelemahan yen membuat harga impor bahan baku, khususnya sumber daya energi, menjadi semakin mahal. Akibatnya, margin keuntungan para pemasok di dalam negeri tertekan, meskipun di sisi lain eksportir justru memperoleh keunggulan kompetitif di pasar luar negeri. Lonjakan nilai impor terutama didorong oleh peningkatan signifikan pada produk semikonduktor dan elektronik yang naik 55 persen, serta perangkat komunikasi yang melonjak 48 persen.

Sementara itu, impor minyak Jepang justru mengalami penurunan, baik dari segi volume maupun harga. Fenomena ini menyoroti tantangan besar yang dihadapi Jepang akibat konflik di Iran. Seperti diketahui, Jepang selama ini sangat bergantung pada kawasan Timur Tengah untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energi nasionalnya.

Di sisi lain, kinerja ekspor Jepang tetap solid di tengah booming permintaan produk teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan. Ekspor chip tercatat naik 61,2 persen, termasuk lonjakan pengiriman ke China. Selain itu, ekspor mobil meningkat hampir 19 persen, dan logam non-ferrous juga mencatat pertumbuhan yang signifikan.

Meskipun ekspor menunjukkan performa positif, defisit perdagangan ini menjadi indikasi bahwa sektor perdagangan berpotensi membebani pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua. Para ekonom sebelumnya memperkirakan akan terjadi perlambatan ekonomi akibat dampak perang di Iran. Situasi ini menempatkan para pembuat kebijakan di Bank Sentral Jepang (BOJ) pada posisi yang sulit. BOJ telah mengisyaratkan niat untuk terus menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi tanpa harus menghambat laju perekonomian.

Pada Selasa lalu, BOJ menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi sejak 1995 dan berjanji akan ada kenaikan lebih lanjut. Langkah ini memicu spekulasi di pasar bahwa kenaikan suku bunga berikutnya bisa terjadi sebelum akhir tahun.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar