Harga minyak mentah menguat pada perdagangan Jumat, tetapi tetap mencatat penurunan mingguan yang tajam di tengah ketidakpastian negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi global.
Minyak mentah Brent berjangka ditutup naik 1,3 persen menjadi USD83,55 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,15 persen ke level USD78,18 per barel. Namun, sepanjang pekan ini Brent masih berpotensi merosot lebih dari 8 persen, dan WTI melemah lebih dari 7 persen.
Pergerakan harga sepanjang pekan berlangsung volatil. Pasar mencermati setiap perkembangan negosiasi yang menentukan mekanisme pengawasan dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Pada awal pekan, harga sempat anjlok karena peluang penyelesaian konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) terlihat semakin terbuka. Sentimen berbalik setelah Iran mempertimbangkan rancangan undang-undang yang melarang kapal berbendera AS dan Israel melintas di selat tersebut.
Pada Kamis, harga minyak melonjak lebih dari USD3 per barel setelah kabar itu mencuat. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati Selat Hormuz sebelum perang pecah pada akhir Februari lalu.
Vandana Hari, pendiri perusahaan analisis pasar minyak Vanda Insights, mengatakan sinyal mengenai kemungkinan kesepakatan sepanjang pekan telah membuat sentimen pasar bergerak seperti roller coaster.
"Pasar masih mencoba menilai apakah kesepakatan Iran-Oman memungkinkan kapal berbendera AS melintasi Selat Hormuz," ujar Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow. Pertanyaan serupa juga muncul terkait kapal milik perusahaan AS maupun kapal yang membawa muatan menuju pelabuhan AS.
Iran dan Oman disebut telah menyepakati rute yang akan digunakan kapal untuk melintasi selat yang berada di antara kedua negara tersebut. Namun, belum jelas apakah AS akan menerima ketentuan itu. Ketidakpastian juga muncul terkait biaya yang harus dibayarkan kapal yang melintasi jalur tersebut.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan negaranya meminta biaya sekitar 5-7 persen dari nilai kargo. Sementara itu, Oman membahas biaya sekitar 3 persen, sedangkan Washington menginginkan tidak ada pungutan sama sekali.
Sejumlah analis menilai perkembangan sepanjang pekan juga menunjukkan bahwa konflik antara Iran dan AS belum sepenuhnya berakhir. Empat sumber industri mengatakan rancangan kesepakatan tersebut sulit diterapkan karena adanya sanksi AS dan ketentuan asuransi yang membatasi pembayaran.
Bjarne Schieldrop dari SEB Research menilai struktur kesepakatan Iran-Oman saat ini memberikan terlalu banyak pengaruh kepada Iran sehingga sulit diterima secara politik oleh Presiden AS Donald Trump.
"Selat tersebut perlu dibuka sepenuhnya," ujar Partner di Again Capital, John Kilduff. Menurut Kilduff, ketidakpastian mengenai hasil perang dan waktu berakhirnya konflik membuat para pelaku pasar tetap sangat waspada.
Artikel Terkait
Iran Ajukan Sederet Syarat untuk Buka Selat Hormuz, Termasuk Pencabutan Sanksi
Iran Tetapkan Enam Syarat Berat untuk Buka Kembali Selat Hormuz
Iran dan Oman Rundingkan Skema Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz
Iran Sebut Kesepakatan Selat Hormuz Hampir Tercapai, tapi Tak Otomatis Buka Jalur