Ikan berlemak seperti salmon, makarel, sarden, dan trout semakin diakui sebagai salah satu asupan harian yang penting untuk menjaga kesehatan jantung. Kandungan asam lemak omega-3 di dalamnya, terutama DHA dan EPA, disebut mampu melindungi fungsi kardiovaskular secara menyeluruh.
Pakar irama jantung, Rajesh S. Banker, M.D., menjelaskan bahwa DHA dan EPA yang tinggi pada ikan berlemak efektif meningkatkan kadar kolesterol baik atau HDL. "Ikan berlemak dapat membantu meningkatkan HDL dan menjaga aliran darah yang sehat dan lancar melalui arteri," kata Banker, Jumat (7/8/2026).
Selain itu, EPA dan DHA juga berperan menekan produksi VLDL oleh hati, sehingga kadar trigliserida dalam darah berkurang secara signifikan. Ahli kardiologi Muzamil Khawaja, M.D., menegaskan bahwa trigliserida tinggi merupakan faktor risiko independen untuk serangan jantung, terutama pada penderita resistensi insulin atau sindrom metabolik.
"Trigliserida tinggi merupakan faktor risiko independen untuk penyakit jantung dan sangat umum terjadi pada orang dengan resistensi insulin atau sindrom metabolik, sehingga menurunkannya secara signifikan mengurangi risiko kardiovaskular," ujar Khawaja.
Asam lemak omega-3 juga berfungsi sebagai antiinflamasi alami yang melawan peradangan kronis, yang dapat memicu aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak. "Peradangan sistemik merupakan stresor besar pada sistem kardiovaskular dan kesehatan secara keseluruhan. Ikan berlemak berkualitas memberikan manfaat anti-inflamasi yang kuat yang dapat menstabilkan sistem pembuluh darah dan menurunkan risiko kejadian jantung," tambah Banker.
Sementara itu, Presiden HeartPlace, Rick Snyder, M.D., menekankan bahwa konsumsi rutin ikan berlemak dapat mengoptimalkan aktivitas listrik jantung serta kelenturan pembuluh darah. "Meskipun ikan berlemak bukanlah pengganti obat ketika dibutuhkan, memasukkannya secara teratur sebagai bagian dari diet seimbang berkontribusi pada kesehatan kardiovaskular jangka panjang," jelas Snyder.
Meski demikian, para pakar mengingatkan bahwa pola makan sehat harus diimbangi dengan pengelolaan gaya hidup, mengingat faktor genetik dan riwayat keluarga tetap memengaruhi risiko penyakit kardiovaskular.