Di tengah keluhan masyarakat tentang sulitnya ekonomi, sebagian pendukung pemerintah justru menunjuk ramainya pameran otomotif GIIAS sebagai bukti bahwa daya beli masyarakat baik-baik saja. Namun, pengamat media sosial Ferry Irwandi meluruskan logika tersebut. Menurutnya, fenomena itu justru memperlihatkan tajamnya kesenjangan pendapatan di Indonesia.
"Fakta bahwa di satu sisi ada kelompok kecil masyarakat yang sebegitu gampangnya borong mobil di GIIAS saat sebagian besar lagi terguncang hanya untuk perkara mempertahankan kehidupan, membuktikan betapa jomplangnya distribusi pendapatan di masyarakat kita sekarang," tulis Ferry dalam akun Threads-nya.
Menilai ekonomi negara dari transaksi di pameran otomotif elit seperti mengukur tingkat kelaparan nasional dari antrean restoran bintang lima. GIIAS adalah pameran dengan segmentasi khusus untuk kelas menengah ke atas.
Logika yang menyamakan daya beli segelintir kaum berduit dengan nasib ratusan juta rakyat Indonesia justru menunjukkan ketidakmampuan sebagian pendukung pemerintah dalam membedakan gaya hidup kelompok elit dan indikator ekonomi makro yang sebenarnya.
Artikel Terkait
Penundaan Insentif Mobil Listrik dan GIIAS Jadi Katalis Positif bagi Penjualan Astra