Seorang peneliti forensik digital, Rismon Sianipar, mendatangi kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo pada Rabu pagi. Dalam kunjungan yang berlangsung sekitar pukul 09.44 WIB itu, ia membawa sebuah buku setebal 800 halaman berjudul “Otentikasi Ijazah Joko Widodo: Sebuah Kajian Forensik Digital”. Rismon datang didampingi kuasa hukumnya, Jahmada Girsang, dengan tujuan menyerahkan langsung buku tersebut kepada Jokowi sebagai bentuk permohonan maaf dan pertanggungjawaban moral.
“Sebagai rasa berterima kasih saya pada kebesaran hati Pak Jokowi, bahwa saya selama ini big mistake. Dan saya memperbaikinya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah,” ujar Rismon kepada awak media di lokasi.
Rismon menegaskan bahwa saat ini ia hanya tunduk pada kaidah ilmiah, bukan lagi pada afiliasi politik atau kebencian subjektif. Penelitian terbarunya, menurut dia, telah melalui proses yang ketat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Buku yang ia bawa itu mengupas keaslian ijazah Jokowi dengan memanfaatkan teknologi pencocokan citra digital berbasis neural networks dan machine learning. Selain itu, ia juga menggunakan metode Acface untuk membandingkan foto Jokowi saat muda dengan foto terkini.
“Di bab 10 sudah ada pencocokan citra wajah, bagaimana analisa saya foto Pak Jokowi muda pada saat di ijazah tersebut dengan Pak Jokowi setelah jadi Presiden, 30 atau 40 tahun ke depan. Pencocokannya bagaimana pakai Acface,” jelas Rismon.
Ia menambahkan bahwa metode serupa juga diterapkan untuk membandingkan foto Prabowo Subianto saat muda dengan foto ketika menjabat sebagai Presiden 40 tahun kemudian. Bahkan, Rismon mengaku sempat menguji coba teknik yang sama terhadap sejumlah tokoh publik lainnya, seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Luhut Binsar Pandjaitan, Anies Baswedan, dan Megawati Soekarnoputri. Namun, kajian untuk tokoh-tokoh tersebut tidak dimasukkan ke dalam buku karena akan membuat tebalnya melampaui 800 halaman.
Dari seluruh pengujian, Rismon menyebutkan bahwa hasil kecocokan atau cosine similarity berada di rentang 35 hingga 60 persen. Menurutnya, angka tersebut sangat realistis secara sains dan menunjukkan bahwa metode yang digunakan memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Artikel Terkait
Empat Negara Eropa Siap Cabut Sanksi Iran dengan Syarat Selat Hormuz Dibuka Kembali
Kasdam XIV/Hasanuddin Terima Ketua PWI Sulsel, Perkuat Sinergi Demi Berita Akurat dan Berimbang
Laba Bersih PT Jasa Berdikari Logistics Melonjak 181 Persen di 2025, Dividen Dibagikan
Buron Legendaris Eddy Tansil Kembali Disorot, Kejagung Rampas Aset Rp 1,3 Triliun