Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, menyambut baik tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran. Menurutnya, momen tersebut tidak hanya meredakan ketegangan bilateral, tetapi juga harus menjadi titik awal bagi lahirnya stabilitas kawasan dan dorongan untuk mengakhiri berbagai konflik kemanusiaan yang masih berlangsung, khususnya di Palestina.
"Saya sangat berharap hal ini dapat mengakhiri ketegangan, mencegah eskalasi konflik, serta membuka jalan bagi terciptanya stabilitas keamanan kawasan dan perdamaian dunia yang lebih berkelanjutan, termasuk penghentian kejahatan Zionis Israel kepada warga Gaza dan Palestina secara keseluruhan," ujar Sudarnoto dalam keterangannya, Selasa (16/6/26).
Sudarnoto menegaskan bahwa setiap langkah yang mengedepankan dialog, diplomasi, penghormatan terhadap kedaulatan negara, serta penyelesaian sengketa secara damai merupakan jalan yang harus terus diperkuat oleh seluruh masyarakat internasional. "Perdamaian itu merupakan nilai universal yang sejalan dengan ajaran Islam dan cita-cita kemanusiaan, serta amanah yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945," katanya.
Kendati demikian, ia menekankan bahwa terdapat beberapa pertimbangan penting yang menyertai terciptanya perdamaian tersebut. Pertama, menghentikan ancaman peperangan yang lebih luas yang dapat menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta krisis kemanusiaan di kawasan Timur Tengah. Kedua, menjamin kembali keamanan dan kelancaran pelayaran internasional di Selat Hormuz sebagai salah satu jalur strategis perdagangan dan distribusi energi dunia.
Ketiga, mencegah lonjakan harga minyak dan energi dunia yang selama ini menjadi salah satu dampak utama dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Keempat, mendorong stabilitas ekonomi global, mengingat terganggunya pasokan energi dan perdagangan internasional akan berdampak langsung terhadap inflasi, harga kebutuhan pokok, serta kesejahteraan masyarakat di berbagai negara, termasuk negara-negara berkembang. Kelima, memberikan ruang yang lebih besar bagi pembangunan, kerja sama ekonomi, dan kemajuan peradaban dibandingkan dengan pengeluaran besar untuk konflik dan perlombaan persenjataan.
"Hemat saya, kesepakatan damai ini harus menjadi titik awal bagi terciptanya arsitektur keamanan kawasan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan, bukan sekadar penghentian konflik yang bersifat sementara. Karena itu, melalui titik awal ini, pemerintah Israel juga bisa dipaksa untuk menghentikan kejahatannya dan keluar dari seluruh wilayah Palestina," ujar Sudarnoto.
Artikel Terkait
Restoran Milik Warga Ukraina di Warsawa Dibakar Dua Pria Bermasker
Keputusan MSCI pada 18 dan 23 Juni 2026 Jadi Penentu Nasib IHSG dan Status Pasar Modal Indonesia
Pejalan Kaki Tewas Ditabrak Truk di Serang, Sopir Kabur Tinggalkan Lokasi
Warsh Pimpin Rapat Perdana The Fed, Suku Bunga Diprediksi Ditahan di Tengah Inflasi Tinggi