Beras resmi tidak lagi menjadi komoditas penyumbang inflasi utama di Indonesia setelah produksi dan pasokan pangan nasional dinilai aman serta semakin kuat. Pernyataan ini disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Senin (15/6/2026), sebagai respons atas membaiknya stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat.
“Kita syukuri beras tidak lagi menjadi penyumbang inflasi utama,” ujar Amran dalam keterangannya. Ia menambahkan, kondisi ini tidak terlepas dari pasokan beras yang mencukupi sehingga harga dapat terjaga di tengah tingginya permintaan masyarakat.
Salah satu faktor utama yang mendorong perubahan tersebut adalah kuatnya cadangan beras nasional. Stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog tercatat mencapai lebih dari lima juta ton. Dengan jumlah tersebut, pemerintah memiliki bantalan yang memadai untuk mengendalikan harga di pasar.
Sementara itu, Kementerian Pertanian terus memperkuat distribusi dan stabilisasi harga bersama pemerintah daerah, Bulog, serta ID Food. Langkah ini diambil untuk menjaga tren positif yang telah terbangun. Menurut Amran, gejolak harga pada sejumlah komoditas lain seperti bawang merah dan minyak goreng lebih banyak dipengaruhi oleh faktor distribusi, bukan karena kelangkaan pasokan.
“Bawang merah ini anomali karena kita sudah ekspor. Distribusinya yang akan kita perbaiki ke depan. Untuk minyak goreng, bahan bakunya lebih dari cukup sehingga perlu percepatan distribusi ke daerah,” jelasnya.
Amran juga meminta seluruh gubernur dan bupati bersama Bulog untuk mengaktifkan pasar murah guna menjaga keseimbangan harga. Langkah ini dinilai penting, terutama untuk membantu peternak ayam dan produsen telur yang saat ini menghadapi tekanan harga.
“Kami mohon seluruh gubernur dan bupati bersama Bulog mengaktifkan pasar murah beras, ayam, dan telur. Harga ayam dan telur saat ini perlu dukungan agar Bulog dan ID Food menjadi offtaker dan menjaga keseimbangan harga,” katanya.
Di sisi lain, ketahanan pangan nasional dinilai semakin kokoh. Dari sebelas komoditas pangan yang dikendalikan pemerintah, delapan di antaranya telah mencapai swasembada. Tiga komoditas lainnya bawang putih, kedelai, dan daging masih dipenuhi sebagian melalui impor.
“Kebutuhan kita sekitar 68 juta ton, produksi mencapai 73 juta ton. Impor hanya sekitar 3,5 juta ton atau sekitar 4 persen. Berdasarkan konsensus FAO, impor di bawah 10 persen sudah termasuk swasembada. Jadi saat ini kita sudah swasembada pangan,” tegas Amran.
Artikel Terkait
ESDM Siapkan Rp5,2 Triliun untuk Bangun Jaringan Gas Bagi 959 Ribu Rumah Tangga pada 2027
Menag Ajak Umat Jadikan Momentum Muharam untuk Perkuat Persatuan dan Kepedulian Sosial
Menteri ESDM Bentuk Tim Khusus Awasi Pasokan Batu Bara untuk PLN
LPSK Ajukan Tambahan Anggaran Rp262,43 Miliar untuk Perlindungan Saksi dan Korban pada 2027