Minat Investor AS Melonjak, Danantara Jajaki Penerbitan Obligasi Global Tenor 30 Tahun

- Senin, 15 Juni 2026 | 20:00 WIB
Minat Investor AS Melonjak, Danantara Jajaki Penerbitan Obligasi Global Tenor 30 Tahun

Minat investor global yang melonjak mendorong Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk menjajaki penerbitan obligasi global dengan jangka waktu lebih panjang, termasuk tenor hingga 30 tahun. Langkah ini diambil setelah gelombang respons positif diterima selama kegiatan penjajakan pasar di sejumlah pusat keuangan utama dunia.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa para pemodal institusional memberikan sinyal kuat atas profil risiko Indonesia yang dinilai stabil di tengah dinamika ekonomi global. “Kepercayaan dunia luar terhadap Indonesia sangat baik dan ini tercermin dari kesediaan mereka membeli global bond Danantara, bahkan mereka menyatakan sangat terbuka apabila kita ingin menerbitkan bond sampai yang 30 tahun,” ujarnya dalam keterangan di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Minat yang membuncah itu terekam sejak dimulainya kunjungan maraton Danantara ke Hong Kong, Singapura, Boston, London, hingga New York pada 3 Juni lalu. Rosan yang memimpin langsung delegasi di New York berhasil bertemu dengan sekitar 122 investor mancanegara untuk memaparkan ketangguhan fundamental ekonomi nasional menghadapi tantangan geopolitik dan siklus ekonomi.

Animo besar tersebut justru didominasi oleh investor asal Amerika Serikat, mematahkan tren historis di mana obligasi Indonesia biasanya lebih banyak diburu pemodal Asia. Pada instrumen tenor 10 tahun, pemodal dari AS menyerap hingga 52 persen, disusul Eropa dan Timur Tengah 31 persen, serta Asia sebesar 17 persen. Sementara itu, untuk tenor 5 tahun, porsi investor AS mencapai 38 persen, sedangkan Eropa dan Timur Tengah mendominasi dengan 41 persen, dan Asia 21 persen.

“Peminat terbesarnya terutama yang 10 tahun, di mana 52 persen yang subscribe dari bond kita adalah berasal dari Amerika Serikat, padahal historically biasanya permintaan kita kebanyakan dari Asia,” kata Rosan.

Pergeseran peta investor ini menjadi bukti bahwa daya tarik Danantara telah menjangkau basis pemodal kakap di pusat keuangan dunia. Antusiasme pasar yang meluap terlihat dari nilai penawaran yang masuk selama proses bookbuilding yang menyentuh angka 4,6 miliar dolar AS, jauh melampaui target awal sebesar 1 miliar dolar AS.

Merespons tingginya permintaan tersebut, manajemen Danantara memutuskan untuk melakukan upsize nilai emisi menjadi 1,5 miliar dolar AS yang terbagi rata untuk masing-masing tenor sebesar 750 juta dolar AS. Rosan juga membeberkan soal penetapan tingkat bunga yang kompetitif, yakni 5,35 persen untuk tenor 5 tahun dan 5,95 persen untuk tenor 10 tahun. Capaian ini berada jauh di bawah perkiraan awal pasar yang sempat memprediksi angka imbal hasil di atas 6 hingga 7 persen.

Rendahnya yield tersebut mengindikasikan bahwa investor tidak menuntut premi risiko tinggi bagi instrumen Danantara. Seluruh proses hukum internasional telah dituntaskan dengan penandatanganan kesepakatan resmi pada 11 Juni lalu. Capaian ini sekaligus diklaim menjawab keraguan banyak pihak mengenai ketepatan waktu penerbitan obligasi di tengah tekanan pasar modal domestik dan nilai tukar rupiah.

“Roadshow ini mendapatkan hasil sangat positif dan real karena tanggal 11 kemarin kita sudah signing, lalu pada tanggal 18 dana ini akan masuk ke dalam rekening Danantara. Hasil ini di luar ekspektasi banyak orang yang awalnya memperkirakan mana ada yang mau beli kalau kita rilis obligasi,” kata Rosan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar