Sektor hortikultura Indonesia dinilai memiliki prospek yang cerah, terutama jika ditopang oleh penerapan teknologi benih yang tepat, praktik budidaya yang baik, serta semangat petani yang terus berinovasi. Di tengah meningkatnya permintaan buah segar di berbagai daerah, Lampung konsisten menunjukkan perannya sebagai salah satu sentra produksi semangka utama di tanah air. Berbekal kondisi agroklimat yang mendukung, semangka asal provinsi ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga menjadi pemasok utama bagi sejumlah wilayah di Sumatera dan Pulau Jawa.
Keberhasilan Lampung sebagai sentra semangka tidak terlepas dari kemampuan para petani dalam mengadopsi berbagai inovasi budidaya, termasuk penggunaan benih unggul yang mampu menjawab kebutuhan pasar sekaligus tantangan di lapangan. Selama bertahun-tahun, petani di berbagai sentra produksi terus mengembangkan praktik pertanian yang lebih modern dan efisien, sehingga produktivitas dan kualitas hasil panen pun meningkat secara signifikan.
Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri, menegaskan bahwa daerahnya kaya akan potensi pertanian. Komoditas semangka dari Lampung Tengah, menurutnya, telah terbukti memiliki kualitas luar biasa dan mampu memenuhi kebutuhan pasar, baik lokal maupun nasional.
“Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk terus mendukung para petani, mulai dari penyediaan sarana dan prasarana, pendampingan penyuluh, hingga upaya menjaga stabilitas harga pascapanen,” ujar Komang, Kamis (4/6/2026).
Semangat dan keberhasilan petani semangka di Lampung Tengah bahkan melahirkan sebuah simbol kebanggaan masyarakat setempat melalui peresmian Tugu AMARA di Desa Simpang Agung. Tugu tersebut dibangun sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan para petani yang telah berkontribusi dalam mengembangkan pertanian daerah. Lebih dari sekadar monumen, tugu ini menjadi pengingat akan pentingnya kolaborasi antara petani, inovasi teknologi, dan dukungan berbagai pihak dalam memajukan sektor hortikultura.
Salah satu petani dari Desa Simpang Agung, Misno, mengaku bahwa keberhasilan yang diraihnya selama ini ditopang oleh pendampingan teknis yang berkelanjutan. Berbagai pengetahuan mengenai manajemen budidaya, pemupukan, pengendalian penyakit, hingga teknik menghasilkan buah berkualitas diperolehnya melalui interaksi dan pembelajaran bersama tim dari PT East West Seed Indonesia (EWINDO) di lapangan.
“Dulu kami bertani lebih banyak berdasarkan pengalaman. Seiring waktu, kami belajar banyak dari tim EWINDO mengenai cara budidaya yang lebih tepat dan efisien. Pendampingan yang diberikan membantu kami memahami teknologi budidaya yang terus berkembang, mulai dari persiapan lahan, pemeliharaan tanaman, hingga penanganan hasil panen. Dengan penerapan teknologi yang lebih baik, hasil yang kami peroleh juga semakin meningkat,” kata Misno.
Ia menambahkan, penggunaan benih unggul semangka AMARA F1 menjadi salah satu faktor penting yang mendukung keberhasilan usaha taninya. Karakter buah yang besar, produktivitas tinggi, serta ketahanannya terhadap berbagai tantangan budidaya membuat varietas tersebut semakin dipercaya oleh petani di wilayahnya.
“AMARA F1 sudah menjadi bagian dari perjalanan usaha tani kami. Buahnya besar, hasilnya memuaskan, dan pasarnya juga bagus. Yang paling penting, kami tidak hanya mendapatkan benih, tetapi juga pendampingan yang membantu kami terus berkembang. Karena itu, sampai sekarang saya tetap percaya dan tumbuh bersama EWINDO,” ujarnya.
Secara teknis, semangka AMARA F1 mampu menghasilkan buah berukuran besar dengan potensi bobot mencapai 7 hingga 9 kilogram per buah. Dalam kondisi budidaya yang optimal, varietas ini memiliki potensi hasil sangat tinggi, yakni 33 hingga 39 ton per hektar. Selain produktivitas yang tinggi, AMARA F1 juga memiliki umur panen yang relatif cepat, yaitu sekitar 58 hingga 62 hari setelah tanam. Karakter ini memberikan keuntungan bagi petani karena memungkinkan percepatan siklus produksi dan perputaran usaha tani yang lebih efisien.
Dari sisi ketahanan tanaman, AMARA F1 memiliki toleransi yang baik terhadap sejumlah penyakit penting yang sering menjadi tantangan dalam budidaya semangka, seperti Gummy Stem Blight (GSB) atau penyakit batang bergetah, layu fusarium, serta layu bakteri. Varietas ini juga dikenal memiliki proses pembuahan yang mudah sehingga membantu pembentukan buah secara lebih optimal. Keunggulan lainnya terdapat pada karakter kulit buah yang keras dan kuat, sehingga mampu menjaga kualitas buah selama proses distribusi. Daya tahan tersebut menjadi nilai tambah penting, mengingat sebagian besar produksi semangka Lampung dipasarkan ke berbagai daerah di Sumatera maupun Pulau Jawa yang membutuhkan pengangkutan dalam jarak relatif jauh.
Sementara itu, Deputy Managing Director EWINDO, Isak Heryawan, menyebut bahwa keberhasilan sentra-sentra produksi semangka di Indonesia, termasuk Lampung, tidak dapat dilepaskan dari peran para petani yang menjadi fondasi utama sistem pangan nasional.
“Petani adalah bagian yang sangat penting dalam sistem pangan Indonesia. Mereka berada di garis depan dalam memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Karena itu, EWINDO akan terus berkomitmen untuk menjadi sahabat petani yang paling baik melalui penyediaan benih unggul, pendampingan, serta inovasi kontribusi lebih dari benih lainnya yang mampu memberikan manfaat nyata bagi keberhasilan usaha tani mereka,” ujar Isak.
Artikel Terkait
Immanuel Ebenezer Divonis 4,5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp3,4 Miliar atas Kasus Pemerasan Sertifikasi K3
DPR Sahkan Revisi UU P2SK, Perkuat OJK-BI-LPS hingga Bentuk Satgas Pinjol dan Judol
KPK Tetapkan Wamen Imipas Silmy Karim Tersangka Pemerasan dan Gratifikasi
Toyota Agya 1.2 Bekas Masih Diburu, Harga Varian 2021 Capai Rp146 Juta