Dalam hitungan menit menggulir layar media sosial, seseorang bisa merasa kalah dari ratusan orang sekaligus. Ada yang tampak lebih sukses, lebih kaya, lebih bahagia, bahkan lebih religius. Fenomena ini, yang dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO, telah mengubah cara manusia memandang kehidupan. Namun, yang sesungguhnya hilang dari banyak orang saat ini bukan sekadar kesempatan, melainkan rasa cukup dalam hidupnya.
Media sosial telah mengubah hidup perlahan dari sebuah amanah menjadi panggung perbandingan. Orang menjadi sulit menikmati apa yang dimilikinya karena terlalu sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain. Liburan orang lain membuat hidup terasa membosankan, pencapaian orang lain membuat diri terasa gagal, dan kebahagiaan pun akhirnya diukur dari seberapa layak ia dipamerkan. Ironisnya, algoritma platform digital memang dirancang untuk hidup dari perhatian manusia. Semakin seseorang penasaran, iri, cemas, atau takut tertinggal, semakin lama ia bertahan menggulir layar.
Media sosial akhirnya menjadi etalase tanpa akhir. Masalahnya, manusia terlalu sibuk melihat etalase kehidupan orang lain hingga lupa mensyukuri isi rumahnya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan menentukan skala prioritas hidup perlahan terkikis. Dalam kajian Islam, para ulama menjelaskan bahwa kebutuhan manusia memiliki tingkatan: dharuriyyat (primer), hajiyyat (pelengkap), dan tahsiniyyat (penghias). Namun di era FOMO, batas itu mulai kabur.
Banyak orang rela mengorbankan kebutuhan pokok demi memenuhi tuntutan gaya hidup dan pencitraan digital. Demi terlihat “berkelas”, seseorang memaksakan sesuatu di luar kemampuannya. Tidak sedikit yang berutang demi mengikuti tren, lebih mementingkan estetika daripada keberkahan, dan lebih takut dianggap tertinggal daripada benar-benar kehilangan arah hidup. Akibatnya, kebutuhan tahsiniyyat justru ditempatkan di atas dharuriyyat. Penampilan lebih diprioritaskan daripada ketenangan jiwa, dan validasi sosial lebih dikejar daripada kesehatan mental dan spiritual.
FOMO membuat manusia sibuk memperindah etalase hidupnya, tetapi lupa membangun fondasi hidupnya sendiri. Padahal, Islam sejak lama telah mengingatkan agar manusia tidak terus-menerus memandang kehidupan orang lain dalam hal urusan dunia. Rasulullah ﷺ bersabda: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim). Hadis ini terasa sangat relevan di tengah budaya digital hari ini, di mana media sosial justru mendorong manusia untuk terus melihat “ke atas”: melihat yang lebih kaya, lebih cantik, lebih sukses, dan lebih populer.
Islam tidak melarang seseorang untuk sukses, kaya, atau memiliki cita-cita tinggi. Namun, Islam mengajarkan qana’ah: kemampuan merasa cukup tanpa kehilangan semangat untuk berusaha. Qana’ah bukan berarti pasrah atau anti ambisi, tetapi kemampuan menempatkan dunia secara proporsional. Ketika seseorang kehilangan rasa cukup, hidup akan mudah dikendalikan oleh gengsi dan pengakuan sosial. Apa yang sebenarnya hanya pelengkap berubah menjadi kebutuhan utama, dan apa yang seharusnya sekadar sarana berubah menjadi ukuran harga diri.
Islam juga mengenal konsep zuhud: teknik menghindari cinta dunia dengan menempatkan dunia cukup di tangan, tidak memenuhi hati. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia atau anti terhadap kesuksesan, melainkan tidak menjadikan dunia sebagai pusat ketenangan hidup. Sebab, ketika dunia terlalu dijadikan ukuran kebahagiaan, manusia akan mudah gelisah melihat pencapaian orang lain. Karena itu, persoalan terbesar generasi digital hari ini mungkin bukan kurangnya nikmat, melainkan hilangnya kemampuan menikmati nikmat.
FOMO tidak akan selesai hanya dengan “detoks media sosial”, sebab akar persoalannya bukan semata pada aplikasi di tangan, tetapi pada cara manusia memandang kebahagiaan. Selama kebahagiaan diukur dari pencapaian orang lain, seseorang akan terus merasa tertinggal. Di tengah dunia yang terus berkata “kamu belum cukup”, Islam mengajarkan sesuatu yang sederhana namun menenangkan: tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki untuk bisa bahagia.
Artikel Terkait
Kapolri Resmi Buka Judo Kapolri Cup 2026 di Samarinda, Sasar Bibit Atlet Baru
BPA Fair 2026: Kejaksaan Lelang 308 Aset Rampasan, Minyak Mentah Tembus Rp900 Miliar
PSS Sleman Ikut Memburu Mariano Peralta, Empat Klub Berebut Bintang Borneo FC
Pemulung Lansia di Padang Terima Becak Baru dan Hadiah Umrah setelah Videonya Viral