Tidak semua tikus adalah hewan pengerat biasa yang hidup di sekitar permukiman manusia. Di Afrika Timur, terdapat spesies unik bernama tikus jambul Afrika (African crested rat) yang dikenal sebagai salah satu tikus paling mematikan di dunia karena memiliki racun alami pada tubuhnya.
Hewan dengan nama ilmiah Lophiomys imhausi ini memiliki sistem pertahanan yang sangat langka di dunia mamalia. Berdasarkan laporan National Geographic, tikus jambul Afrika mampu memanfaatkan racun dari tumbuhan berbahaya untuk melindungi diri dari predator. Kemampuan tersebut menjadikannya salah satu mamalia paling unik yang pernah diteliti ilmuwan.
Tikus jambul Afrika diketahui menggunakan racun dari tanaman Acokanthera schimperi, tumbuhan beracun yang sejak lama dimanfaatkan masyarakat Afrika untuk berburu. Dalam penelitian yang dikutip National Geographic, tikus tersebut menggigit dan mengunyah kulit maupun akar tanaman sebelum mengoleskan racun ke bagian bulu khusus di sisi tubuhnya. Bulu itu memiliki struktur menyerupai spons sehingga mampu menyerap dan menyimpan racun.
Saat predator menggigit area tersebut, racun dapat masuk ke tubuh dan memicu gangguan serius hingga kematian. Zat beracun dari tanaman itu diketahui dapat memengaruhi kerja jantung dan dalam dosis tertentu cukup kuat untuk membunuh hewan besar seperti anjing liar. Kemampuan mamalia memanfaatkan racun seperti ini tergolong sangat jarang ditemukan di alam.
Secara fisik, tikus jambul Afrika memiliki ukuran lebih besar dibanding tikus biasa dengan bulu hitam-putih tebal serta jambul panjang di bagian punggung. Ketika merasa terancam, hewan ini akan mengembangkan bulu di sisi tubuhnya untuk memperlihatkan area beracun sebagai peringatan kepada predator.
Tikus jambul Afrika hidup di kawasan hutan dan pegunungan Afrika Timur, termasuk Kenya, Ethiopia, dan Tanzania. Hewan ini juga termasuk nokturnal atau aktif pada malam hari dan cenderung hidup menyendiri sehingga jarang terlihat manusia. Peneliti menilai kemampuan tikus jambul Afrika menunjukkan bahwa sebagian mamalia memiliki sistem pertahanan yang jauh lebih kompleks dibanding yang selama ini dipahami.
Berbeda dengan tikus biasa yang berbahaya karena menyebarkan penyakit, tikus jambul Afrika justru mematikan karena racun pada bulunya.
Artikel Terkait
Spanyol Boikot Eurovision 2026, PM Sanchez Sebut Bentuk Perlawanan terhadap Genosida Israel di Gaza
OJK Dukung Kredit Rakyat Bunga Maksimal 5 Persen, Ingatkan Bank Jaga Prinsip Kehati-hatian
Polri Target Bangun 1.500 Unit Dapur Gizi pada 2026 untuk Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Menag Serukan Spirit Kiai Wahab Hasbullah untuk Perkuat Moderasi Beragama dan Transformasi Pesantren