Iran Kecam Blokade Maritim AS, Ancaman Perdamaian dan Pasar Energi Global

- Selasa, 14 April 2026 | 18:15 WIB
Iran Kecam Blokade Maritim AS, Ancaman Perdamaian dan Pasar Energi Global

Reaksi keras datang dari Teheran. Iran secara terbuka mengecam blokade maritim yang baru saja diberlakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhannya. Pemerintah Iran menyebut langkah Washington ini bukan cuma masalah, tapi sebuah pelanggaran serius terhadap kedaulatan mereka dan aturan main internasional yang sudah disepakati.

Amir Saeid Iravani, Duta Besar Iran untuk PBB, tak ragu menyuarakan protes itu. Dalam surat resmi yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang kemudian dilihat oleh AFP Iravani menulis dengan nada keras.

Ia menyebut blokade yang mulai berlaku Senin lalu sebagai "pelanggaran berat terhadap kedaulatan Iran" yang sekaligus "menimbulkan ancaman serius bagi perdamaian internasional."

Tak berhenti di situ, Iravani juga menuding AS telah menginjak-injak hukum laut internasional. Menurutnya, tindakan sepihak Washington ini jelas-jelas melanggar prinsip-prinsip fundamental yang mengatur laut. Sebelumnya, Iran sudah sempat mengeluarkan peringatan: jangan harap keamanan pelabuhan di kawasan Teluk Persia dan Oman bisa terjaga jika tekanan militer terhadap mereka terus dipaksakan.

Semua ini terjadi di tengah kegagalan pembicaraan damai antara kedua negara di Pakistan akhir pekan lalu. Negosiasi itu buntu, tak menghasilkan kesepakatan apa pun untuk meredakan konflik.

Paksaan untuk Buka Selat Hormuz

Di sisi lain, militer AS sudah bergerak. Mereka mulai memblokir kapal dari negara mana pun yang berusaha masuk atau keluar dari pelabuhan dan perairan pesisir Iran di dua teluk tersebut. Presiden Donald Trump dengan gamblang menyebut tujuan dari langkah ekstrem ini.

"Kita tidak bisa membiarkan sebuah negara memeras dunia," ujar Trump dari Gedung Putih.

Ia ingin memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur sempit yang sangat vital. Dalam kondisi normal, selat ini dilewati sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas bumi dunia. Ancaman Trump juga konkret: kapal perang Iran yang mendekati area blokade akan dihancurkan.

"Setiap kapal Iran yang mendekat akan segera dieliminasi," tegasnya.

Pejabat militer AS mengonfirmasi, blokade ini berlaku untuk semua bendera. Langkah ini diambil tak lama setelah pembicaraan damai di Pakistan mentok tanpa titik terang.

Gencatan Senjata Terancam, Pasar Energi Cemas

Yang jadi masalah, blokade ini diberlakukan padahal AS dan Iran sebenarnya baru saja sepakat gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan yang rencananya berlaku hingga 22 April itu sekarang terancam bubar. Ketegangan bisa meledak lagi kapan saja.

Respon Iran dengan mengancam keamanan semua pelabuhan di kawasan hanya memperbesar kemungkinan konflik regional yang lebih luas. Dan semua mata tertuju ke Selat Hormuz.

Ini adalah urat nadi energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melewati perairan sempit ini. Gangguan sejak perang pecah akhir Februari lalu sudah memicu lonjakan harga energi. Memang, pada perdagangan Selasa, harga minyak sempat mereda di bawah 100 dolar per barel. Ada secercah harapan bahwa dialog baru mungkin masih terbuka.

Tapi para analis memperingatkan, situasinya tetap rapuh. Sangat rapuh. Satu insiden militer atau gangguan pelayaran di Selat Hormuz saja sudah cukup untuk kembali mengguncang pasar energi dan membebani ekonomi global yang sudah lesu. Dampaknya akan terasa di mana-mana.

Editor: Arti Ekawati

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini