Bank Indonesia baru saja merilis proyeksi terbarunya. Menurut lembaga ini, penjualan ritel pada Maret 2026 diprakirakan tetap tumbuh, meski angkanya tak secemerlang bulan sebelumnya. Indeks Penjualan Riil (IPR) diproyeksikan mencapai 254,2, atau naik 2,4% secara tahunan. Kalau dibandingin sama capaian Februari yang tumbuh 6,5%, jelas ini ada perlambatan.
Tapi jangan salah, beberapa sektor justru menunjukkan performa yang cukup solid. Yang paling mencolok adalah kelompok Suku Cadang dan Aksesoris, yang melesat 11,3%. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau juga tumbuh 4%, sementara Barang Budaya dan Rekreasi mencatat kenaikan 1,7%. Jadi, masih ada pilar yang menopang.
Nah, kalau dilihat dari bulan ke bulan, ceritanya jadi berbeda. IPR Maret 2026 diprediksi bakal melonjak 9,3% dibanding bulan sebelumnya. Ini adalah peningkatan yang signifikan, mengingat di Februari pertumbuhannya cuma 4,1%. Tren peningkatan ini terasa banget.
Apa penyebabnya? Ternyata, momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 H punya pengaruh besar. Masyarakat memang biasanya lebih banyak belanja jelang hari raya. Efeknya terlihat jelas pada beberapa kelompok barang.
Misalnya, penjualan Peralatan Informasi dan Komunikasi yang sebelumnya minus, kini bangkit dengan pertumbuhan 8,1%. Bahan Bakar Kendaraan Bermotor juga ikut naik 6,4%. Yang paling dramatis adalah Subkelompok Sandang atau pakaian, yang melonjak hingga 18,6% setelah sebelumnya hanya tumbuh 6,1%. Semua ini sejalan dengan peningkatan permintaan saat musim libur dan hari besar keagamaan.
Yang menarik, optimisme pelaku usaha juga terpantau tinggi. Responden survei BI memperkirakan penjualan akan terus membaik dalam 3 dan 6 bulan ke depan. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk Mei 2026 tercatat 147,2, naik tipis dari April. Untuk Agustus, angkanya bahkan lebih tinggi lagi, mencapai 162,4.
Rupanya, ada serangkaian momen penting yang jadi pendorong. Peningkatan di Mei diduga kuat dipicu oleh rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Iduladha, Kenaikan Yesus Kristus, dan Waisak. Sementara untuk Agustus, euforia HUT Kemerdekaan RI dan persiapan tahun ajaran baru diperkirakan akan menyuntikkan geliat di pasar ritel.
Lalu bagaimana dengan harga? Di sini ada sedikit catatan. Tekanan inflasi pada Mei 2026 diprakirakan meningkat, yang tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) sebesar 157,4. Kenaikan harga bahan baku disebut-sebut sebagai biang keroknya.
Namun begitu, ada kabar baik untuk pertengahan tahun. Untuk Agustus 2026, tekanan harga diprediksi relatif stabil. IEH Agustus diprakirakan hanya 157,2, hampir tak berubah dibanding proyeksi Juli di angka 157,1. Setidaknya, ini bisa jadi angin segar bagi daya beli masyarakat di paruh kedua tahun 2026.
Artikel Terkait
Volume Kendaraan Menuju Timur Trans Jawa Melonjak 32 Persen Selama Libur Iduladha
PDIP Tantang Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli UGM saat Safari Politik ke Daerah
Warga Bekasi Timur Geger Temuan Benda Mirip Granat Nanas di Tempat Pembuangan Sampah
Nvidia Siap Masuki Pasar Prosesor PC, Gandeng Microsoft dan Dell untuk Chip Pertama