Pemerintah Tetapkan Percepatan Eliminasi TB sebagai Langkah Darurat Nasional

- Selasa, 07 April 2026 | 11:15 WIB
Pemerintah Tetapkan Percepatan Eliminasi TB sebagai Langkah Darurat Nasional

JAKARTA Angkanya sungguh mencengangkan. Setiap menit, dua orang di Indonesia terinfeksi tuberkulosis. Fakta itu sendiri sudah cukup menggambarkan betapa gentingnya situasi TB di tanah air. Tak heran, pemerintah kini menegaskan percepatan eliminasi penyakit ini sebagai sebuah langkah darurat nasional. Sebuah kebijakan yang diambil bukan tanpa alasan, melainkan menyusul tingginya angka penularan dan kematian yang terus mengintai.

Penegasan itu disampaikan dalam Temu Media Hari Tuberkulosis Sedunia 2026. Di forum tersebut, Wakil Menteri Kesehatan, dr Benjamin P Octavianus, tak menampik bahwa kondisi TB di Indonesia masih sangat memprihatinkan.

“Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan,” ujar Benjamin dalam keterangan resminya, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya, situasi ini jelas menuntut langkah penanganan yang jauh lebih agresif. Pemerintah pun kini mempercepat berbagai strategi untuk menekan angka penularan sekaligus kematian akibat TB. Laju penyebarannya yang begitu cepat memang tak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Data pemerintah menunjukkan Indonesia mencatat lebih dari satu juta kasus TB setiap tahunnya. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban tuberkulosis tertinggi di dunia. Sebuah posisi yang tentu saja tidak kita inginkan.

Sebagai respons, deteksi dini secara masif menjadi fokus utama. Salah satu langkah konkretnya adalah melalui Program Cek Kesehatan Gratis yang menargetkan sekitar 130 juta masyarakat pada 2026. Program ini diharapkan bisa menemukan kasus lebih cepat, sehingga pengobatan bisa segera dimulai. Dengan begitu, risiko penularan ke orang lain bisa ditekan.

Namun begitu, deteksi saja tidak cukup. Pemerintah juga memperkuat strategi pelacakan kontak erat pasien TB. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan siapa saja yang berpotensi terpapar bisa segera diperiksa. Di sisi lain, pemberian terapi pencegahan TB bagi kelompok berisiko tinggi juga diperluas. Pendekatan ini diharapkan mampu mencegah penyakit berkembang pada orang yang sudah terpapar bakteri.

Peran masyarakat dan kader kesehatan pun turut diperkuat. Keterlibatan komunitas dinilai penting karena merekalah yang berada di garis depan, berhadapan langsung dengan realita di lapangan, mulai dari mendeteksi hingga mendampingi pasien selama pengobatan.

Benjamin menekankan, tidak ada lagi ruang untuk menunda. Setiap detik berarti.

“Tidak ada waktu untuk menunda. Setiap kasus yang ditemukan dan diobati adalah langkah menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

Dukungan global pun terus diperkuat. Perwakilan WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono, menyoroti kontribusi besar Indonesia terhadap jumlah kasus TB global. Dia mengungkapkan, Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus di dunia. Angka itu jelas menunjukkan betapa pentingnya upaya percepatan penanganan di dalam negeri.

“TB masih menjadi ancaman global. Ada kemajuan, tetapi belum cukup cepat. Komitmen politik dan pendanaan nasional sangat menentukan,” kata Setiawan.

Data yang dihimpun cukup suram. Pada 2024, tercatat sekitar 118.000 kematian akibat TB pada orang tanpa HIV di Indonesia. Belum lagi tambahan sekitar 8.100 kematian pada orang yang hidup dengan HIV.

WHO menyoroti sejumlah tantangan besar. Salah satunya, masih banyaknya kasus yang ‘hilang’, alias belum terdiagnosis, sehingga pasien tak mendapat pengobatan tepat waktu. Lalu, munculnya TB resistan obat juga jadi persoalan serius yang membuat pengobatan jadi lebih sulit dan panjang. Faktor risiko lain seperti malnutrisi, diabetes, dan kebiasaan merokok turut memperburuk kerentanan seseorang terhadap infeksi.

Meski tantangannya berat, harapan itu tetap ada. Inovasi di bidang kesehatan terus berkembang. Saat ini, tercatat lebih dari 100 alat diagnostik TB sedang dikembangkan di berbagai negara. Selain itu, ada 29 jenis obat baru dan 18 kandidat vaksin yang sedang dalam tahap pengembangan. Kehadiran vaksin baru di masa depan diharapkan bisa memperkuat perlindungan.

Pada akhirnya, semua kembali pada komitmen. Dukungan inovasi, tekad pemerintah, dan keterlibatan aktif masyarakat adalah kunci. Upaya eliminasi TB di Indonesia harus berjalan lebih cepat. Seperti kata Benjamin, ini saatnya bertindak sekarang. Untuk menyelamatkan nyawa, satu per satu.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar