TEHERAN – Ancaman Iran terhadap Israel kembali mengeras. Kali ini, peringatan itu disampaikan langsung oleh seorang jenderal tinggi militer. Intinya: jika Amerika Serikat benar-benar menyerang, maka Israel akan menjadi sasaran balasan. Padahal, negara Yahudi itu mungkin saja tak terlibat langsung dalam serangan AS yang potensial.
Mayor Jenderal Amir Hatami, Panglima militer Iran, tak main-main dengan kata-katanya. Lewat kantor berita pemerintah IRNA, Minggu (1/2/2026), dia menyatakan tentaranya terus memantau setiap gerak-gerik musuh di kawasan.
“Jika musuh melakukan kesalahan, tanpa diragukan lagi akan membahayakan keamanan sendiri, keamanan kawasan, dan keamanan rezim Zionis,” tegas Hatami.
Ucapannya ditutup dengan kalimat singkat yang penuh arti: “Jari kami sudah di pelatuk.”
Sebenarnya, ini bukan kali pertama ancaman semacam itu dilontarkan. Sebelum Hatami, Ali Shamkhani penasihat dekat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei juga sudah bicara. Dalam wawancara dengan stasiun televisi Lebanon Al Mayadeen, Shamkhani menyebut Iran siap membalas dengan cara yang proporsional dan efektif. Sasaran balasannya jelas: wilayah Israel.
Di sisi lain, situasinya jadi makin rumit dengan sikap Amerika Serikat. Presiden Donald Trump berulang kali mengancam akan menyerang Iran dalam dua pekan terakhir. Pemicunya adalah demonstrasi anti-pemerintah yang berujung ricuh dan menewaskan ribuan orang.
Tapi Trump juga terkesan mendua. Dia masih berharap negosiasi nuklir bisa dilanjutkan.
“Tapi lihat, rencananya adalah (Iran) sedang berbicara dengan kita. Kita akan lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu. Jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi,” kata Trump dalam wawancaranya dengan Fox News.
Namun begitu, ancaman militernya tak surut. Dia bahkan menyebut armada besar AS sedang bergerak ke wilayah tersebut. “Lebih besar daripada yang kita miliki dan sebenarnya masih kita miliki terhadap Venezuela,” ujarnya, mengulang peringatan yang sudah beberapa kali disampaikan.
Jadi, ketegangan di Timur Tengah sekali lagi memanas. Iran mengancam Israel, sementara Washington sendiri masih bermain di dua kaki: antara berunding dan menekan. Semuanya sekarang tergantung pada langkah selanjutnya dari masing-masing pihak.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun