Suparma Cetak Sejarah: Pabrik Pertama di Indonesia Raih Sertifikasi Nol Sampah ke TPA

- Jumat, 30 Januari 2026 | 08:50 WIB
Suparma Cetak Sejarah: Pabrik Pertama di Indonesia Raih Sertifikasi Nol Sampah ke TPA

PT Suparma Tbk (SPMA) baru saja mencatatkan sejarah. Perusahaan manufaktur ini berhasil meraih sertifikasi internasional "Zero Waste to Landfill", yang pertama kalinya diberikan kepada sebuah pabrik di Indonesia. Intinya, hampir semua limbah padat mereka tepatnya 99,95 persen tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Menurut CEO Suparma, Edward Sopanan, pencapaian ini buah dari komitmen panjang. "Kami memandang pencapaian ini bukan sebagai akhir, tetapi sebagai awal untuk terus berinovasi dan berkontribusi bagi lingkungan dan masyarakat," ujarnya.

Sertifikat dari lembaga internasional Control Union itu diserahkan langsung oleh Director PT PCU Indonesia, Gayan Wejesiriwardana. Program ini sendiri merupakan bagian dari strategi ekonomi sirkular dan prinsip ESG yang mereka usung.

Edward menjelaskan, kuncinya adalah memandang limbah bukan sebagai sampah, melainkan sumber daya yang masih punya nilai. Pengelolaannya dilakukan lewat daur ulang, pemanfaatan kembali, dan tentu saja, teknologi ramah lingkungan.

Lalu, seberapa banyak limbah yang berhasil dialihkan? Jumlahnya cukup signifikan. Setiap hari, Suparma menghasilkan sekitar 40 ton limbah Faba (abu sisa pembakaran), 20 ton limbah plastik, dan 300 kilogram limbah organik. Nah, semua material itu dikelola sendiri, tanpa dikirim keluar atau dibuang ke TPA.

Prosesnya memang tak instan. Penerapannya dilakukan bertahap sejak 2020, lalu mengalami percepatan besar di tahun 2024. Limbah Faba, misalnya, disalurkan ke perusahaan afiliasi untuk diubah jadi produk konstruksi seperti genteng, paving block, hingga bata ringan. Sementara limbah plastiknya diolah menjadi sumber energi untuk kebutuhan pabrik mereka sendiri.

Ke depan, bukan tidak mungkin produk-produk hasil daur ulang limbah ini akan dipasarkan lebih luas. Ini sejalan dengan visi perusahaan untuk menciptakan nilai tambah dari praktik keberlanjutan yang mereka jalankan.

Pencapaian Suparma ini pun mendapat apresiasi dari pemangku kepentingan lokal. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Dedik Irianto, menyambut baik langkah tersebut.

"Kami bangga karena Surabaya menjadi yang pertama. Semoga langkah ini dapat diikuti industri lain sehingga beban TPA dapat berkurang," kata Dedik.

Ia menambahkan, meski Surabaya punya fasilitas Waste-to-Energy di TPA Benowo yang bisa olah 1.000 ton sampah per hari, volume sampah yang masuk masih hampir dua kali lipatnya. Karena itulah, kontribusi dunia industri seperti ini dinilai sangat krusial untuk meringankan beban lingkungan.

Jadi, apa yang dilakukan Suparma ini lebih dari sekadar sertifikasi. Ini adalah bukti nyata bahwa pendekatan sirkular dalam industri bukanlah hal mustahil. Dan yang terpenting, ini baru permulaan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar