Ledakan di Karakas, Venezuela Desak Sidang Darurat DK PBB
Karakas diguncang serangan militer Amerika Serikat pada Sabtu (3/1/2026) dini hari. Suara ledakan keras membangunkan warga yang tengah terlelap. Bukan cuma satu dua ledakan. Dentumannya terdengar di sejumlah distrik, bahkan sampai ke Bandara Internasional Simon Bolivar di Maiquetia dan kawasan pelabuhan La Guaira.
Serangan itu ternyata bagian dari operasi skala besar. Tak lama setelah kejadian, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi. Militernya, kata dia, tak hanya menyerang. Mereka juga menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta sang Ibu Negara. Keduanya lalu dibawa keluar dari Venezuela.
Respon Venezuela pun datang. Mereka geram.
Menteri Luar Negeri Yvan Gil, lewat saluran Telegram, mengumumkan langkah diplomatik yang diambil pemerintahnya. "Sebagai tanggapan atas agresi kriminal oleh pemerintah Amerika Serikat terhadap tanah air kami, kami secara resmi telah meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan," ujarnya.
Permintaan itu dilayangkan secara resmi oleh Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada. Suratnya sudah beredar. Intinya jelas: Venezuela mendesak sidang darurat Dewan Keamanan PBB segera digelar.
Suasana di ibu kota Venezuela masih mencekam. Warga yang menyaksikan dari balik jendela menggambarkan suasana malam yang tiba-tiba berubah jadi nerana. Lampu-lampu kota, dentuman, lalu kesenyapan yang tak karuan. Situasinya benar-benar di luar dugaan.
Kini, bola ada di pihak PBB. Bagaimana tanggapan dunia internasional menyikapi aksi militer AS yang dramatis ini, kita tunggu saja perkembangannya. Satu hal yang pasti, krisis ini telah membuka babak baru yang sangat berisiko di kawasan.
Artikel Terkait
Puncak Perayaan Waisak 2026 Dipusatkan di Candi Borobudur, Pemerintah Siapkan Koordinasi Penuh
Inggris Pastikan Sembilan Wakil di Kompetisi Eropa Musim 2026-2027
Prabowo Apresiasi Prancis sebagai Pelopor Solusi Dua Negara untuk Palestina
Iduladha Dorong Rantai Pasok Ekonomi Kerakyatan, Danareksa: Peternak Hingga Sopir Truk Ikut Terdampak