Momentum kendaraan listrik di Indonesia sedang naik daun. Tapi, apakah insentif yang jadi pendorong utamanya akan bertahan? Menurut sejumlah pengamat, justru di situlah kuncinya. Insentif bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian vital dari strategi jangka panjang untuk membangun industri nasional yang tangguh.
Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio punya pandangan menarik. Baginya, soal besaran insentif bukanlah masalah utama. Yang justru bikin pusing adalah ketidakpastian. Kebijakan yang plin-plan, muncul lalu hilang, malah berisiko mematikan kepercayaan. Baik dari pelaku industri yang sudah investasi besar-besaran, maupun dari konsumen yang baru saja mulai melirik kendaraan listrik.
Ujarnya dalam sebuah keterangan, Rabu lalu. Poinnya jelas: konsistensi adalah segalanya.
Dukungan pemerintah, lanjut Agus, seharusnya tak cuma fokus pada penjualan unit. Lebih dari itu, infrastruktur pendukung harus dipastikan kesiapannya. Mulai dari stasiun pengisian daya yang merata, skema pengelolaan limbah baterai yang aman, sampai penyesuaian aturan lalu lintas dan keselamatan. Semuanya perlu berjalan beriringan, bertahap namun pasti.
Di sisi lain, posisi Indonesia sebagai basis perakitan kendaraan listrik yang sedang berkembang juga perlu diperhatikan. Fase krusial ini memerlukan kepastian hukum dan kebijakan. Hanya dengan begitu, industri dalam negeri bisa bernafas lega untuk meningkatkan kandungan lokal, menyerap alih teknologi, dan akhirnya membangun daya saing yang sustainable.
Artikel Terkait
Ekspor Mesin Listrik dan Panel Surya Pacu Pertumbuhan Dagang Indonesia-AS
Iran Ajukan Empat Syarat ke AS untuk Hentikan Perang di Timur Tengah
Laba Bersih Jamkrindo Syariah Melonjak 160% Jadi Rp141 Miliar pada 2025
DJP Catat Lebih dari 10,5 Juta SPT Tahunan Dilaporkan hingga Tenggat Maret 2026