Sementara itu, di dalam negeri, Bobibos tetap bergerak. Mereka menjalankan proyek percontohan berbasis komunitas dan relawan. Produksinya terbatas, hanya untuk konsumsi internal sebagai pembuktian teknologi. Belum ada distribusi komersial.
Mulyadi juga meluruskan kesalahpahaman yang menyamakan Bobibos dengan konsep blue energy. Seluruh proses teknologi mereka, klaimnya, bisa diuji secara ilmiah. "Tidak mempertaruhkan reputasi pribadi maupun simbol negara," imbuhnya, merujuk pada posisinya sebagai pejabat dan pengurus partai politik.
Visi mereka sederhana namun ambisius.
"Pada dasarnya, kami ingin membantu masyarakat, membantu negara, dan menjaga lingkungan. Transisi energi adalah keniscayaan. Indonesia memiliki potensi besar melalui energi nabati," kata dia.
Di sisi lain, Mulyadi menegaskan Bobibos akan tetap patuh pada aturan yang ada. Pemerintah Indonesia saat ini baru menetapkan sawit, aren, dan tebu sebagai sumber bioenergi. Mereka akan menunggu regulasi yang membuka peluang pemanfaatan jerami. Sambil menunggu, langkah mereka di Timor Leste akan terus berjalan.
Artikel Terkait
KPK Catat 94.542 Penyelenggara Negara Belum Lapor LHKPN Jelang Batas Akhir
Arus Balik Lebaran 2026 Masih Padat, Kedatangan di Stasiun Jakarta Capai 52.896 Penumpang
KPK: 94 Ribu Pejabat Belum Lapor LHKPN, Batas Akhir 31 Maret 2026
Upaya Pencurian Motor Gagal di Kos Makassar Berkat Kehadiran Pemilik