PSIS Pecat Jafri Sastra: Langkah Strategis atau Hanya Pelampiasan Kekecewaan?

- Minggu, 01 Februari 2026 | 17:30 WIB
PSIS Pecat Jafri Sastra: Langkah Strategis atau Hanya Pelampiasan Kekecewaan?

Figur Seperti Bernardo Tavares yang Dibutuhkan

Sekarang PSIS berada di persimpangan. Jika pergantian pelatih cuma menghasilkan nama sementara atau figur aman, maka degradasi tinggal menunggu waktu.

Yang dibutuhkan Mahesa Jenar adalah pelatih berkarakter kuat, punya visi jelas, dan berani ambil risiko. Seseorang seperti Bernardo Tavares, yang dulu membenahi PSM Makassar dan kini menukangi Persebaya Surabaya.

Bukan soal dia pelatih asing atau punya CV mentereng. Ini soal metodologi. Bernardo datang ke PSM saat tim itu krisis, lalu membangun fondasi disiplin, pertahanan solid, dan identitas bermain yang konsisten. Dia tidak cuma menyelamatkan, tapi membentuk ulang timnya.

PSIS butuh tipe pelatih macam itu. Seseorang yang bisa menata ulang mentalitas pemain, menyederhanakan pola permainan, dan memaksimalkan potensi yang sudah ada.

Skuad Sudah Dibereskan, Tinggal Pimpinannya

Sebenarnya, ambisi manajemen PSIS sudah terlihat dari perombakan skuad. Mereka mendatangkan 14 pemain baru. Tiga pemain asing Denilson Rodrigues, Rafael Rodrigues, dan Aldair Simanca sudah diikat kontrak.

Deretan nama senior seperti Otavio Dutra, Alberto Goncalves, dan Esteban Vizcarra juga memperkaya pengalaman tim. Di atas kertas, PSIS punya pemain-pemain yang tahu betul bagaimana bertahan di liga yang keras.

Lini lokal pun tak kalah: ada Mario Londok, Wawan Febrianto, Ocvian Chanigio, dan beberapa nama lain yang diharapkan bisa memberi warna.

Persoalannya sekarang bukan pada kuantitas pemain, tapi pada arah dan gagasan. Tanpa pelatih yang punya otoritas dan konsep bermain yang jelas, skuad bagus ini cuma akan jadi kumpulan nama tanpa jiwa.

Taruhan Nyawa di Putaran Ketiga

Putaran ketiga nanti tidak akan ada ampun. Lawan semakin sengit, tekanan makin menggila, setiap poin harganya mahal. PSIS sudah kehabisan ruang untuk coba-coba.

Memecat Jafri Sastra adalah langkah besar. Tapi langkah yang lebih menentukan justru ada di depan mata: siapa yang akan menggantikannya.

Kalau PSIS benar-benar ingin bertahan, mereka harus berani keluar dari zona nyaman. Berani merekrut pelatih yang bisa mengubah haluan kapal, bukan sekadar menambal kebocoran.

Sebab di titik kritis seperti ini, Mahesa Jenar sudah tak butuh tambalan sementara. Mereka butuh seorang pemimpin sejati.


Halaman:

Komentar