Ada rasa kecewa yang mendalam di balik kata-katanya. Ia merasa kerja keras timnya tak sepenuhnya dihargai.
Memang, tekanan di PSG itu lain level. Ekspektasinya gila-gilaan, nyaris tak manusiawi. Tuchel membandingkannya dengan Bayern Munchen, di mana setiap gelar domestik dirayakan dengan apresiasi besar. Di Paris, rasanya berbeda. Kemenangan di liga seolah dianggap biasa saja, sesuatu yang wajib.
“Ekspektasi di sini sangat ekstrem. Kamu merasa apresiasi terhadap apa yang kami lakukan, terutama di liga, tidak ada seperti di Bayern,” ujarnya.
Natal pahit itu pun menutup babak penting dalam kariernya. Era Tuchel di Paris berakhir dengan cara yang dramatis. Meski begitu, namanya tetap tercatat dalam sejarah klub sebagai sang pembuka jalan ke final Liga Champions. Sebuah warisan prestasi, yang sayangnya, berakhir dengan perpisahan yang getir di malam suci.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Pembalap Indonesia Pertama Podium di MotoGP
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts dan Nevis dengan Selisih Nilai Pasar Pemain 50 Kali Lipat
Eredivisie Tegaskan Tak Akan Ulangi Pertandingan Meski Status Pemain Dipertanyakan
Kiandra Ramadhipa Siap Berlaga di FIM Moto3 Junior World Championship 2026