Laju Deforestasi Indonesia Turun 75%, Level Terendah dalam 20 Tahun

- Jumat, 07 November 2025 | 10:40 WIB
Laju Deforestasi Indonesia Turun 75%, Level Terendah dalam 20 Tahun
Indonesia Klaim Laju Deforestasi Turun ke Level Terendah dalam 20 Tahun di COP30

Indonesia Klaim Laju Deforestasi Turun 75%, Capai Level Terendah dalam 20 Tahun

Dalam pertemuan puncak COP30, Indonesia menyampaikan kabar baik mengenai penurunan laju deforestasi. Pemerintah Indonesia mengklaim bahwa laju deforestasi telah turun ke level terendah dalam dua dekade terakhir.

Hal ini disampaikan langsung oleh Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, dalam pidatonya di Belem Climate Summit. "Rata-rata laju deforestasi tahunan kami telah turun ke level terendah dalam dua dekade, mewakili penurunan sebesar 75% sejak 2019," ujarnya.

Investasi dalam Perlindungan Satwa Liar dan Keanekaragaman Hayati

Selain isu iklim, Indonesia juga menekankan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Upaya perlindungan satwa liar dinilai krusial untuk kelestarian hutan.

Hashim menjelaskan komitmen Indonesia dalam hal ini. "Kami juga berinvestasi dalam perlindungan satwa liar dengan mengembangkan koridor gajah dan program konservasi berbasis masyarakat bekerja sama dengan mitra internasional dan lokal," jelasnya.

Komitmen Prabowo: Masyarakat sebagai Pusat Aksi Iklim dan Alokasi Hutan Adat

Kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga disoroti. Hashim menyatakan bahwa masyarakat harus menjadi pusat dalam segala upaya perubahan iklim.

Sebagai bukti komitmen, disebutkan bahwa Prabowo telah mengalokasikan 1,4 juta hektare hutan untuk masyarakat adat dan lokal. "Awal tahun ini, Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan kepada dunia komitmen berani kami untuk mengakui dan mengalokasikan 1,4 juta hektar hutan adat kepada masyarakat adat dan lokal dalam empat tahun ke depan," pungkas Hashim.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar