Gempa M7,4 Guncang Kolombia, Lebih dari 200 Orang Tewas

- Rabu, 12 Agustus 2026 | 00:10 WIB
Gempa M7,4 Guncang Kolombia, Lebih dari 200 Orang Tewas

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin pagi. Bencana ini menewaskan lebih dari 200 orang dan merusak kawasan penghasil kopi di negara tersebut.

Tim penyelamat hingga Selasa masih berpacu dengan waktu untuk mencari korban yang kemungkinan tertimbun di bawah reruntuhan bangunan. Di sejumlah kota yang terdampak parah, petugas bekerja sepanjang malam menggunakan alat berat seperti derek dan ekskavator, serta tangan kosong untuk menyingkirkan puing-puing demi menemukan korban selamat.

"Kami fokus pada tugas mendesak untuk menyelamatkan nyawa, memastikan tim penyelamat tiba, serta membawa pasokan medis dan rumah sakit lapangan," kata Menteri Dalam Negeri Kolombia Rodrigo Lara kepada Blu Radio, dilansir Reuters, Selasa.

Kantor kemanusiaan PBB (OCHA) mencatat, berdasarkan data resmi hingga Senin malam, 126 orang meninggal dunia dan 1.495 orang terluka. Namun, perkiraan otoritas lokal pada Selasa menyebut jumlah korban tewas telah mencapai sekitar 224 orang. Angka ini masih berpotensi berubah karena tim penyelamat baru mulai menjangkau sejumlah wilayah yang rusak dan jaringan komunikasi perlahan kembali pulih.

OCHA juga mencatat hampir 5.000 rumah mengalami kerusakan, dengan puluhan bangunan runtuh dan ratusan lainnya hancur.

Rumah dan Bangunan Runtuh

Di Cali, warga berkumpul di jalan setelah sebagian rumah dan blok apartemen runtuh. Sejumlah keluarga terpaksa memasak di luar rumah dan menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan. Salah satu rumah sakit di kota tersebut juga mengalami kerusakan parah; beberapa lantai teratas, termasuk area perawatan anak, runtuh.

Direktur rumah sakit Irne Torres Castro mengatakan sejumlah pasien sempat terjebak. Sementara itu, sekitar 600 pasien lainnya harus mendapatkan perawatan di jalan yang dipenuhi puing-puing.

Kota Pereira menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Sejumlah kawasan permukiman berubah menjadi tumpukan beton dengan ruangan-ruangan rumah yang terbuka akibat bangunan runtuh. Warga dan relawan membentuk rantai manusia untuk membantu proses evakuasi. Sebagian lainnya terdiam di sekitar lokasi sambil berusaha mendengarkan suara ketukan atau teriakan dari balik reruntuhan.

Fernanda Gaviria (33), warga Pereira, mengatakan sejumlah orang telah berhasil dievakuasi dari reruntuhan, baik dalam kondisi hidup maupun meninggal dunia. "Saya masih tidak percaya. Kemarin pada waktu yang sama saya masih menyapa mereka, hari ini mereka sudah pergi. Ini sangat menyakitkan," ujarnya. Gaviria mengaku terpaksa tidur di taman setelah apartemennya mengalami kerusakan parah.

Bandara hingga Layanan Publik Terganggu

Gempa juga mengganggu infrastruktur penting di sejumlah wilayah Kolombia. Otoritas penerbangan sipil menutup enam bandara, yakni Quibdo, Pereira, Manizales, Armenia, Cartago, dan Buenaventura karena mengalami kerusakan. Puluhan ruas jalan juga dilaporkan terdampak. Layanan listrik, air bersih, kesehatan, dan komunikasi masih terganggu di sejumlah daerah, terutama di Choco yang berada dekat episentrum gempa. Kondisi tersebut membuat proses pencarian korban dan pengiriman bantuan menjadi semakin sulit.

Pemerintah Kolombia telah mengaktifkan pusat-pusat komando darurat. Petugas, relawan, dan lembaga kemanusiaan dikerahkan untuk menyalurkan tenda pengungsian, air minum, perlengkapan kebersihan, makanan, dan bantuan medis. Bantuan internasional juga mulai berdatangan. Amerika Serikat menyatakan telah mengalokasikan US$ 15,5 juta untuk kebutuhan tempat tinggal darurat, makanan, perlindungan, dan penilaian kerusakan. Sementara itu, Bank Pembangunan Inter-Amerika menyediakan US$ 50 juta untuk mendukung rekonstruksi apabila pemerintah Kolombia memintanya.

Dengan kondisi komunikasi yang masih terganggu di sejumlah wilayah terdampak, otoritas memperkirakan diperlukan waktu beberapa hari untuk mengetahui secara pasti skala kerusakan dan jumlah akhir korban tewas.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags