Sebuah komunitas lari yang mayoritas anggotanya warga negara asing (WNA) di kawasan Canggu, Kuta Utara, Badung, Bali, menjadi sorotan setelah diduga melakukan diskriminasi terhadap warga negara Indonesia (WNI). Kegiatan yang diprakarsai kelompok ekspatriat itu disebut membatasi akses pelari lokal dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan umum.
Beredar tangkapan layar obrolan di media sosial yang menunjukkan keluhan warga lokal yang kerap ditolak saat mendaftar. Para calon peserta WNI merasa dipersulit dan diabaikan, sementara pendaftar asing langsung mendapat persetujuan. Seleksi keikutsertaan diduga kuat didasarkan pada latar belakang kewarganegaraan.
Selain tuduhan diskriminasi, aktivitas kelompok lari ini juga disorot karena sering memadati ruas jalan raya hingga memicu kemacetan. Seorang penggiat lari asal Inggris, Josh Fothergill, melalui unggahan media sosialnya menyatakan, "Ada klub lari di Bali yang melarang orang Indonesia untuk bergabung. Kita bikin video ini karena sudah waktunya untuk bersuara demi sesuatu yang benar."
Kecaman senada disampaikan oleh rekannya, Jack Ahearn, yang menilai penolakan warga lokal sebagai bentuk kesewenang-wenangan. "Bagaimana bisa kamu datang ke negara orang lain, lalu merasa punya hak melakukan hal seperti itu? Entourage Bali, perbaiki kelakuan kamu atau pergi dari sini!" tegasnya dalam rekaman video yang sama.
Anggota DPD RI asal Bali, Ni Luh Djelantik, turut menyoroti isu ini dan meminta aparat penegak hukum serta imigrasi segera bertindak. "Kami meminta kepada pihak Imigrasi Bali dan juga Kepolisian Provinsi Bali agar dapat menindaklanjuti laporan kami terkait dengan dugaan diskriminasi oleh WNA dan kegiatan yang diduga tidak berizin. Kepada para WNA yang tidak menerima keanggotaan warga negara Indonesia, kalian melakukannya di Bali, ini adalah tanah air kami," ujarnya, Jumat (24/7/2026).
Buntut dari hebohnya isu tersebut, salah satu tempat yang disinggahi peserta lari, Atelier Sandwich, memberikan klarifikasi. Pihak manajemen menegaskan bahwa peran mereka murni sebagai penyedia tempat dan layanan konsumsi tanpa terlibat dalam urusan internal komunitas. "Peran kami dalam acara tersebut murni sebatas penyedia tempat serta layanan makanan dan minuman bagi para peserta. Kami tidak memiliki wewenang maupun keterlibatan dalam jalur komunikasi dengan peserta, termasuk proses pendaftaran dan keikutsertaan," tulis pengelola melalui akun Instagram resminya.
Artikel Terkait
Polisi Selidiki Dugaan Diskriminasi Komunitas Lari di Canggu yang Tolak Peserta Lokal
Komunitas Lari di Canggu Disorot karena Diskriminasi, Polisi Turun Tangan
Pengusaha Jakarta Tembak Sekuriti dan WNA di Bar Canggu, Emosi karena Alkohol
Penembakan di Bar Canggu, Satu Peluru Tembus Paha Sekuriti dan WNA China