Bagi kebanyakan anak, bersekolah adalah hak yang diperoleh dengan mudah. Namun, tidak demikian bagi Suci Nurlaela. Bocah perempuan berusia 10 tahun itu harus berjuang keras demi bisa terus belajar mulai dari menjajakan gorengan sebelum bel masuk berbunyi hingga menyisihkan waktu di tengah jam istirahat.
Setiap pagi, Uci sapaan akrabnya berangkat jalan kaki dari rumahnya di Desa Campaka Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menuju sekolah yang berjarak sekitar 15 menit tempuh. Di tangannya, ia membawa 150 gorengan berbagai jenis yang dijual dengan harga mulai dari Rp1.000 per buah. “Uci berangkat jalan kaki jam 6 bawa gorengan buat jualan di sekolah. Nanti di jalan atau sebelum masuk kelas jam 7 pada beli,” ujarnya saat ditemui di kediamannya.
Setelah gorengan dagangan pertamanya habis, Uci pulang sekitar pukul 12 siang untuk kembali mengambil 50 gorengan. Ia kemudian menjajakannya di sekitar sekolah hingga laku semua sebelum pulang ke rumah. Di luar jam sekolah, ia juga membantu menjual aneka camilan di rumah. Hasil penjualan gorengan itu menjadi penopang utama ekonomi keluarga sekaligus membiayai kebutuhan sekolahnya.
Uci tinggal bersama uwa atau bude dalam bahasa Sunda dan keluarganya dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan. Meski hidup serba terbatas, semangatnya tidak pernah padam. Ia justru terdorong untuk terus berusaha sebaik mungkin, mulai dari membantu membuat gorengan, ikut menjual, hingga tetap belajar di sela-sela waktu.
“Uci mau jadi pramugari,” kata gadis kecil itu dengan mata berbinar saat ditanya soal cita-citanya. Sosok pramugari terlihat begitu menarik di matanya. Uci yang telah kehilangan ayah dan ibu berharap, kelak profesi itu bisa mengubah nasibnya dan memperbaiki kondisi keluarganya.
Sementara itu, Nanik, seorang relawan yang aktif mendampingi Uci, menuturkan bahwa kehidupan bocah itu penuh liku. Selain kehilangan kedua orang tua, Uci sempat tinggal bersama uwak yang kemudian meninggal dunia. Bersama dua kakak laki-lakinya, ia nyaris tidak terurus tanpa bantuan dari keluarga lain. “Dari kecil udah pindah-pindah uwa. Sekarang udah masuk KK bareng keluarga yang sekarang. Anaknya baik dan rapotnya selalu bagus,” kata Nanik.
Di tengah segala keterbatasan, tekad Uci untuk terus bersekolah dan meraih cita-cita menjadi secercah harapan. Kisahnya menjadi pengingat bahwa semangat tidak selalu lahir dari kemudahan, tetapi sering kali justru tumbuh dari keterpaksaan dan perjuangan.
Artikel Terkait
Menkes Apresiasi Bakti Kesehatan Polri: Sinergi Permudah Akses Layanan Gratis bagi Buruh
Respati Ardi Akui Kesalahan Pemasangan Baliho Ucapan untuk Jokowi, Siap Minta Maaf ke Ketua Gerindra Solo
Bakti Kesehatan Polda Riau Sambut Hari Bhayangkara ke-80 Lampaui Target, 2.400 Warga Terlayani
Portugal Hadapi Uzbekistan dalam Laga Krusial Piala Dunia 2026, Kemenangan Jadi Target Mutlak