Ancaman Trump ke Iran Picu Pelemahan Kontrak Berjangka Saham AS

- Senin, 22 Juni 2026 | 08:45 WIB
Ancaman Trump ke Iran Picu Pelemahan Kontrak Berjangka Saham AS

Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak melemah pada perdagangan Minggu malam waktu setempat, setelah Presiden Donald Trump kembali melontarkan ancaman serangan militer terhadap Iran di tengah proses negosiasi damai yang masih berlangsung rapuh.

Berdasarkan data yang dihimpun dari platform keuangan, kontrak berjangka S&P 500 tercatat turun 0,6 persen ke level 7.523,50. Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq 100 terkoreksi 0,1 persen menjadi 30.410,0, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,37 persen ke posisi 51.814,0. Pelemahan ini membalikkan sentimen positif yang sempat menyelimuti Wall Street pada akhir pekan lalu.

Sebelumnya, bursa saham AS menutup perdagangan Jumat dengan penguatan signifikan. Optimisme pasar saat itu didorong oleh prospek kerangka kesepakatan damai antara Washington dan Teheran, serta penguatan saham-saham produsen chip yang ditopang prospek pertumbuhan sektor kecerdasan buatan. Indeks S&P 500 menguat 0,55 persen, Nasdaq Composite melonjak 1,9 persen, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,1 persen.

Namun, suasana berubah drastis setelah Trump pada Minggu menyampaikan ancaman akan menyerang Iran apabila Teheran tidak menghentikan dukungannya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Kelompok tersebut saat ini masih terlibat konflik bersenjata dengan Israel di wilayah Lebanon Selatan, yang menjadi salah satu hambatan utama dalam perundingan damai yang tengah berlangsung.

Pernyataan kontroversial itu muncul tepat ketika pejabat AS dan Iran sedang menggelar pembicaraan di Swiss untuk membahas kerangka kesepakatan penghentian perang. Kantor berita Tasnim News Agency melaporkan bahwa delegasi Iran telah meninggalkan lokasi perundingan setelah mendengar pernyataan Trump. Meskipun demikian, komunikasi antara kedua pihak masih berlangsung melalui mediator dari Pakistan dan Qatar.

Di sisi lain, isu Selat Hormuz kembali mencuat menjadi sorotan. Pekan lalu, AS dan Iran sepakat menandatangani nota kesepahaman berisi 14 poin yang bertujuan mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Akan tetapi, Israel menegaskan operasi militer terhadap target Hizbullah di Lebanon Selatan tetap berlanjut, sementara Iran menuding Washington dan Tel Aviv telah melanggar kesepakatan.

Laporan akhir pekan menyebutkan bahwa Teheran kembali menutup Selat Hormuz setelah sebelumnya sempat membuka jalur pelayaran secara terbatas. Sinyal yang saling bertolak belakang dari kedua negara ini memperlihatkan betapa rapuhnya nota kesepahaman yang baru disepakati, sekaligus memunculkan keraguan serius atas peluang tercapainya kesepakatan damai yang lebih komprehensif.

AS dan Iran sebelumnya telah berkomitmen untuk melanjutkan perundingan selama 60 hari guna membahas program nuklir Teheran. Namun, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih tetap tinggi dan terus membayangi prospek stabilitas geopolitik global.

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor pada pekan ini juga tertuju pada sejumlah data ekonomi AS. Data Purchasing Managers’ Index periode Mei dan revisi Produk Domestik Bruto kuartal pertama dijadwalkan rilis dalam beberapa hari ke depan. Di akhir pekan, pasar juga akan mencermati data Personal Consumption Expenditures Mei, yang menjadi indikator inflasi utama acuan Federal Reserve. Rilis data tersebut dinilai penting untuk membaca arah inflasi dan potensi kebijakan suku bunga bank sentral AS dalam waktu dekat.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar