Penumpukan Sampah di Kali Gendong Jakarta Utara, Pansus DPRD Dorong Optimalisasi TPS

- Senin, 22 Juni 2026 | 07:00 WIB
Penumpukan Sampah di Kali Gendong Jakarta Utara, Pansus DPRD Dorong Optimalisasi TPS

Penumpukan sampah di Kali Gendong, Penjaringan, Jakarta Utara, menjadi sorotan setelah video yang memperlihatkan tumpukan sampah di area jembatan dan sekitarnya viral di media sosial. Dalam rekaman yang beredar, tampak sejumlah warga dengan sengaja membuang sampah ke aliran kali tersebut. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama fenomena ini adalah ditutupnya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Menanggapi persoalan tersebut, Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta bergerak cepat. Ketua Pansus, Judistira Hermawan, menyatakan bahwa TPST Bantargebang saat ini sudah kelebihan muatan. Untuk mengurangi risiko sampah menumpuk di kali dan badan jalan, ia meminta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk mengoptimalkan fungsi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang tersedia.

“Terkait tumpukan sampah di Kali Gendong Jakarta Utara, ini segera saya akan koordinasikan antar-SKPD, ya Dinas LH dan Dinas Sumber Daya Air (SDA), termasuk Pak Wali Kota Jakarta Utara, agar ini segera ditangani. Dalam situasi seperti ini, kita akan mintakan jajaran terkait untuk menjaga kali atau waduk. Saya kira semua wilayah juga harus dijaga jangan sampai sampah penuh di badan-badan jalan,” kata Judistira kepada wartawan pada Senin (21/6/2026).

Di sisi lain, Judistira menyoroti rencana pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Jakarta yang diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga tahun. Selama masa transisi tersebut, Pansus akan memastikan seluruh fasilitas pengelolaan sampah yang ada berfungsi maksimal. Ia merinci bahwa Jakarta memiliki 31 TPS 3R, sejumlah depo milik DLH, serta fasilitas RDF di Rorotan dan Bantargebang.

“Jakarta direncanakan akan dibangun tiga atau empat pengelolaan sampah yang menghasilkan energi listrik, atau disebut PSEL. Pak Gubernur sudah menyampaikan itu. Namun, sampai semua itu nanti terbangun kira-kira dua sampai tiga tahun maka Pansus Pengelolaan Sampah akan memastikan bersama Dinas LH untuk memaksimalkan fasilitas-fasilitas pengelolaan sampah di Jakarta,” tuturnya.

Lebih lanjut, Judistira mengungkapkan bahwa Pansus tengah mengkaji kemungkinan pembangunan biopori jumbo di berbagai wilayah Jakarta. “Ini semua harus berfungsi maksimal. Pansus sedang mengkaji kemungkinan pembangunan biopori jumbo di berbagai wilayah di Jakarta, apakah di taman-taman atau aset BUMD. Ini lagi kita kaji. Dan tentu, sekali lagi, ini semua perlu dukungan luas dari seluruh masyarakat dengan gerakan pilah sampah dari sumbernya,” sambungnya.

Sementara itu, Gubernur Pramono Anung memberikan klarifikasi lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa penutupan TPST Bantargebang sempat menjadi pemicu utama, namun persoalan tersebut kini mulai teratasi. “Memang kemarin karena Bantargebang sempat ada masalah, jadi beberapa tempat memang terjadi tumpukan sampah. Tetapi alhamdulillah, sekarang ini penanganannya sudah bisa diatasi hampir di semua daerah yang terjadi penumpukan. Secara pelan-pelan, mengalami penurunan,” ujar Pramono seusai pencanangan pedestrian deck Dukuh Atas di Setia Budi, Jakarta Selatan, pada hari yang sama.

Pramono juga memaparkan data pengangkutan sampah harian di Jakarta. Setiap hari, ibu kota mengirim sampah dengan sekitar 1.200 truk atau setara dengan 9.000 ton. Namun, saat ini jumlah pengangkutan belum mencapai 1.200 truk, melainkan hampir 1.000 pengangkutan per hari. “Dan juga pilah sampah mengurangi secara signifikan jumlah sampah yang harus diangkut ke Bantargebang. Kami, seperti diketahui, menargetkan 1 Agustus yang akan dikirim ke Bantargebang adalah residunya,” pungkasnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar