21 Juni: Kelahiran Jokowi, Wafatnya Soekarno, dan Pembredelan Tempo

- Minggu, 21 Juni 2026 | 07:00 WIB
21 Juni: Kelahiran Jokowi, Wafatnya Soekarno, dan Pembredelan Tempo

Tanggal 21 Juni menjadi saksi bisu dari sejumlah peristiwa monumental yang membentuk wajah bangsa Indonesia, mulai dari kelahiran seorang pemimpin, kepergian proklamator, hingga tragedi yang mengguncang dunia pers. Hari itu tidak sekadar angka dalam kalender, melainkan mozaik sejarah yang merekam suka, duka, dan perlawanan dalam perjalanan panjang negeri ini.

Salah satu peristiwa yang dirayakan setiap tahun adalah kelahiran Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Pria yang akrab disapa Jokowi ini lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 21 Juni 1961. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dan menghabiskan masa kecilnya di Kota Solo sebelum akhirnya menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Kariernya tidak dimulai dari panggung politik, melainkan dari dunia usaha sebagai pengusaha mebel. Namanya mulai mencuat setelah ia berhasil menjabat sebagai Wali Kota Surakarta pada 2005 dan dinilai sukses melakukan transformasi tata kota.

Kesuksesan di tingkat lokal itu menjadi batu loncatan bagi Jokowi untuk melangkah ke panggung nasional. Ia memenangkan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012, dan hanya dua tahun berselang, ia bersama Jusuf Kalla maju dalam Pemilihan Presiden 2014. Kemenangan dalam kontestasi tersebut mengantarkannya ke kursi kepresidenan, dan ia resmi dilantik pada 20 Oktober 2014.

Namun, 21 Juni juga menyisakan duka mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada hari yang sama di tahun 1970, Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 69 tahun. Sang proklamator telah lama bergulat dengan penyakit gangguan ginjal yang kesehatannya terus menurun sejak pertengahan 1960-an. Meskipun sempat menjalani perawatan medis di luar negeri, kondisi fisiknya terus memburuk hingga akhirnya berpulang pada Minggu, 21 Juni 1970. Kepergian Bung Karno meninggalkan warisan besar berupa perjuangan kemerdekaan dan fondasi identitas bangsa.

Di sisi lain, tanggal yang sama pada tahun 1994 justru menjadi catatan kelam bagi kebebasan pers di Indonesia. Pemerintah Orde Baru, melalui Menteri Penerangan Harmoko, mengeluarkan keputusan pembredelan terhadap Majalah Tempo. Tindakan represif ini dipicu oleh laporan investigasi yang diterbitkan Tempo, yang secara kritis menyoroti pembelian kapal perang bekas dari Jerman Timur. Laporan tersebut mengungkap lonjakan nilai transaksi yang dianggap tidak wajar dan memicu kontroversi di tingkat nasional.

Pembredelan tersebut tidak hanya membungkam sebuah media, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan. Peristiwa ini memicu gelombang protes besar-besaran dari kalangan jurnalis, akademisi, dan pegiat demokrasi yang menuntut kebebasan berekspresi serta independensi media. Hingga kini, kasus tersebut dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan kebebasan pers di Indonesia.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar