Kapal Tanker Iran Tembus Blokade AS di Teluk, Kirim 4,8 Juta Barel Minyak Mentah

- Rabu, 17 Juni 2026 | 10:40 WIB
Kapal Tanker Iran Tembus Blokade AS di Teluk, Kirim 4,8 Juta Barel Minyak Mentah

Setelah dua bulan berada dalam tekanan blokade Angkatan Laut Amerika Serikat, kapal-kapal tanker minyak Iran akhirnya berhasil menembus perimeter penjagaan di perairan Teluk. Peristiwa ini menandai pengiriman minyak mentah pertama negara itu dalam kurun waktu dua bulan terakhir, sebagaimana dilaporkan oleh situs pelacak pengiriman minyak, TankerTrackers, pada Rabu (17/6).

Menurut data pelacakan digital yang diperkuat oleh citra satelit, setidaknya dua kapal tanker super Very Large Crude Carrier (VLCC) milik National Iranian Tanker Company (NITC) telah keluar dari zona blokade. Kedua kapal tersebut, yakni DIONA (9569695) dan HERO2 (9362073), membawa total 3,8 juta barel minyak mentah Iran. Informasi ini diunggah oleh TankerTrackers melalui akun media sosial X dan dikutip oleh kantor berita AFP pada hari yang sama.

Situs pemantau tersebut juga menambahkan bahwa kapal tanker ketiga milik NITC telah berhasil melintasi garis blokade dengan membawa satu juta barel minyak mentah Iran. Keberhasilan ini menjadi indikasi awal bahwa tekanan militer AS di kawasan itu mulai melonggar.

Sementara itu, langkah tersebut terjadi di tengah perkembangan diplomatik yang signifikan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memastikan bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran telah ditandatangani. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka sepenuhnya pada Jumat (19/6) mendatang.

Pernyataan itu disampaikan Trump di hadapan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Evian-Les-Bains, Prancis, pada Selasa (16/6/2026). “Kesepakatan dengan Teheran sudah ditandatangani,” ujar Trump, seperti dilansir Aljazeera.

Namun, Trump tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai apakah Iran juga turut menandatangani dokumen kesepakatan tersebut. “Kesepakatan sudah ditandatangani, dan Selat sudah sebagian dibuka,” imbuhnya. Ketidakjelasan ini meninggalkan sejumlah pertanyaan mengenai detail perjanjian dan posisi resmi Teheran dalam negosiasi tersebut.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar