Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Rabu pagi, 17 Juni 2026, di tengah tekanan dolar Amerika Serikat yang masih perkasa di pasar global. Berdasarkan data pasar spot hingga pukul 09.05 WIB, mata uang Garuda terpantau berada di level Rp17.738 per dolar AS, mencerminkan masih kuatnya bayang-bayang ketidakpastian ekonomi yang membayangi pergerakan mata uang domestik.
Indeks Dolar AS (DXY) tercatat bertahan di posisi 99,280, menandakan bahwa daya tarik mata uang Negeri Paman Sam tetap tinggi di mata investor internasional. Kondisi ini menjadi faktor utama yang menekan rupiah, seiring dengan aliran modal yang cenderung beralih ke aset berbasis dolar AS. Sementara itu, tekanan terhadap rupiah juga terlihat ketika dibandingkan dengan sejumlah mata uang utama dunia. Terhadap euro, rupiah bertahan di level Rp20.554 per euro, sedangkan terhadap won Korea Selatan, mata uang Indonesia tercatat melemah sekitar 0,31 persen.
Di sisi lain, rupiah masih mampu menunjukkan ketahanan terhadap beberapa mata uang kawasan Asia. Dolar Singapura tercatat melemah tipis 0,01 persen terhadap rupiah menjadi Rp13.839,02, sementara ringgit Malaysia turun 0,05 persen ke level Rp4.359,51. Baht Thailand juga terkoreksi 0,08 persen menjadi Rp545,19. Penguatan rupiah yang lebih terlihat terjadi terhadap yen Jepang, di mana mata uang Negeri Sakura tersebut turun sekitar 0,29 persen sehingga berada di level Rp110,27 per yen. Kondisi ini menunjukkan pergerakan mata uang Asia yang masih beragam di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi global.
Di tengah pelemahan sejumlah mata uang, harga emas dunia justru melanjutkan tren kenaikan. Emas spot (XAU/USD) tercatat naik 11,30 poin atau 0,26 persen ke level USD4.342,53 per troy ons pada pukul 09.06 WIB. Kenaikan tersebut mengindikasikan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian pasar keuangan global.
Pelaku pasar saat ini masih menantikan sejumlah sentimen penting yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah dan aset keuangan lainnya. Kebijakan suku bunga bank sentral global, perkembangan ekonomi Amerika Serikat, serta rilis data ekonomi domestik diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar dalam perdagangan hari ini.
Artikel Terkait
Kapal Tanker Iran Tembus Blokade AS di Teluk, Kirim 4,8 Juta Barel Minyak Mentah
Pejalan Kaki Tewas Ditabrak Truk di Serang, Sopir Kabur Tinggalkan Lokasi
Motif Begal Pelajar di Cileungsi Terungkap: Hasil Curian untuk Setoran ke Istri, Pelaku Juga Konsumen Tramadol
Fregat Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan ke Kapal Pesiar Inggris di Selat Inggris