Pengamat Peringatkan Prabowo soal Potensi Reformasi 1998 Jilid II Jika Ekonomi Tak Segera Dibenahi

- Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:30 WIB
Pengamat Peringatkan Prabowo soal Potensi Reformasi 1998 Jilid II Jika Ekonomi Tak Segera Dibenahi

Pengamat politik Fernando Emas melontarkan peringatan keras kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi terulangnya gelombang protes massal yang dapat mengguncang stabilitas pemerintahan, sebuah skenario yang ia gambarkan sebagai "Reformasi 1998 Jilid II".

Peringatan tersebut bukanlah sekadar spekulasi tanpa dasar. Fernando menegaskan bahwa Reformasi 1998 merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah politik Indonesia modern, yang dipicu oleh krisis ekonomi yang menghancurkan daya beli rakyat serta akumulasi kemarahan atas ketidakadilan dan korupsi yang sistemik. Gerakan mahasiswa dan rakyat saat itu berhasil mengakhiri 32 tahun kekuasaan Orde Baru.

"Saya tidak menakut-nakuti pemerintahan Prabowo, melainkan untuk memberi peringatan berbasis sejarah yang nyata, yakni kondisi yang pernah memicu ledakan sosial seperti 1998 berpotensi berulang jika pemerintah tidak segera bertindak," ujar Fernando Emas, Sabtu (13/6/2026).

Namun, ia menekankan bahwa skenario tersebut tidak akan terjadi secara otomatis. Menurutnya, reformasi hanya akan terwujud jika pemerintah gagal atau terlambat dalam melakukan pembenahan di sektor ekonomi. Dengan kata lain, masih ada jendela peluang bagi Presiden Prabowo untuk mengambil langkah-langkah konkret dan terukur guna mencegah akumulasi kemarahan publik mencapai titik kritis yang tidak terkendali.

"Artinya, masih ada jendela peluang bagi Presiden Prabowo untuk mengambil langkah-langkah konkret dan terukur guna mencegah akumulasi kemarahan publik mencapai titik kritis yang tidak terkendali," tegas Fernando.

Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan yang reaktif dan lambat bergerak adalah kemewahan yang tidak lagi bisa diizinkan dalam kondisi ekonomi dan sosial yang sedemikian kompleks saat ini. Diperlukan keberanian untuk melakukan terobosan kebijakan, termasuk, bila perlu, pergantian menteri yang dinilai tidak mampu memberikan solusi nyata bagi permasalahan ekonomi rakyat.

"Saya memberikan peringatan karena di balik peringatan tersebut terdapat realitas pahit yang dirasakan langsung oleh jutaan rakyat Indonesia setiap harinya," ujarnya.

Fernando menjelaskan bahwa kebijakan ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat kecil bukan sekadar angka statistik. Realitas itu berwujud dalam antrean panjang di SPBU, harga bahan pokok yang terus merangkak naik, tagihan listrik yang membengkak, dan lapangan kerja yang semakin sulit dijangkau. Harga beras, minyak goreng, dan protein hewani terus mengalami tekanan kenaikan yang tidak sebanding dengan peningkatan pendapatan riil masyarakat menengah ke bawah, menggerus daya beli secara sistematis.

Penyesuaian tarif energi dan kebijakan perpajakan yang kurang sensitif terhadap kondisi ekonomi masyarakat turut mempersempit ruang gerak finansial keluarga-keluarga berpenghasilan rendah dan menengah. Sementara itu, angka pengangguran terbuka dan setengah pengangguran yang masih tinggi, ditambah gelombang PHK dari sejumlah sektor industri, menciptakan kekhawatiran yang nyata di kalangan angkatan kerja Indonesia.

Lebih lanjut, Fernando secara eksplisit menyebut bahwa pergantian menteri bukan sekadar manuver politik biasa, melainkan sebuah keniscayaan fungsional. Ketika seorang menteri tidak mampu menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan di sektornya, apalagi di sektor ekonomi yang berdampak langsung pada kehidupan rakyat banyak, maka pergantian adalah tindakan yang bertanggung jawab dan bukan tanda kelemahan pemerintah.

"Penyesuaian kebijakan ekonomi secara menyeluruh juga mendesak dilakukan. Kebijakan yang dirumuskan dalam kondisi dan proyeksi tertentu harus mampu beradaptasi ketika realitas berubah. Fleksibilitas dan kecepatan respons kebijakan adalah tanda dari pemerintahan yang matang dan berpengalaman," ungkap dia.

Fernando mengingatkan bahwa ketidakmampuan menteri dalam menghadirkan solusi konkret tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Setiap hari keterlambatan adalah beban tambahan bagi rakyat. Bahkan, ia mengatakan bahwa hal tersebut memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah, neraca perdagangan, dan arus investasi asing ke Indonesia.

"Kompleksitas permasalahan tidak bisa menjadi alasan untuk lamban bertindak. Justru dalam situasi yang kompleks, kemampuan pemerintah untuk memprioritaskan, mengambil keputusan secara cepat dengan data yang memadai, dan mengeksekusi kebijakan secara efektif adalah yang paling diuji dan paling dibutuhkan," pungkas Fernando.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar