Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, mulai menyiapkan langkah penanganan darurat untuk mengantisipasi krisis air bersih akibat musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih lama dari biasanya. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap prakiraan cuaca yang menunjukkan potensi penurunan debit air baku secara signifikan dalam beberapa bulan ke depan.
Direktur Perusahaan Umum Daerah Air Minum Danum Taka Kabupaten Penajam Paser Utara, Abdul Rasyid, menyatakan bahwa pihaknya telah bersiaga menghadapi kemungkinan terburuk. “Pemerintah kabupaten bersiap untuk ketersediaan air bersih menghadapi potensi kemarau panjang,” ujarnya, Jumat, 12 Juni 2026.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, musim kemarau tahun ini telah dimulai sejak April. Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Oktober hingga November mendatang. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk menyusun sejumlah skema mitigasi apabila debit air baku terus menurun akibat absennya hujan.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah skema penanganan darurat melalui sistem subsidi silang antarwilayah. Abdul menjelaskan bahwa sejumlah daerah masih memiliki pasokan air baku yang cukup stabil dan tidak pernah habis. “Skema yang disiapkan menerapkan sistem subsidi silang antarwilayah, karena sejumlah wilayah pasokan air baku cukup stabil dan tidak pernah habis,” tambahnya.
Penanganan darurat tersebut akan memanfaatkan interkoneksi jaringan pipa dari Kecamatan Waru menuju jaringan di Kelurahan Petung, kemudian diteruskan ke wilayah Kecamatan Penajam. Namun, Abdul mengingatkan bahwa skema ini memerlukan operasional pompa tambahan dengan kapasitas yang cukup besar.
Sementara itu, pasokan air baku dari Lawe-Lawe di Kecamatan Penajam saat ini masih tergolong aman. Kondisi ini didukung oleh tingginya intensitas hujan di kawasan hulu dalam sepekan terakhir, dengan kapasitas produksi mencapai 110 liter per detik. Meski demikian, Abdul mengungkapkan bahwa beberapa titik mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan debit. “Tetapi, sejumlah titik, salah satunya di wilayah Sotek secara perlahan mulai menunjukkan penurunan debit air baku, kendati saat ini masih mampu memproduksi air bersih 90 liter per detik,” ungkapnya.
Artikel Terkait
Bank Jakarta Hadirkan Layanan Pembayaran Pajak Kendaraan di Jakarta Fair
Polisi Tangkap Sopir Truk Tabrak Lari yang Tewaskan Tokoh Pramuka Senior Herman Sulistyo
Pemprov Jateng Dorong Program MBG Serap Bahan Baku Lokal Demi Dongkrak Ekonomi Peternak
AS Kirim Skuadron Kapal Selam Nuklir ke Pangkalan Strategis Australia dalam Rangka Pakta AUKUS